Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan laporan terbaru mengenai ketahanan energi nasional yang saat ini berada di angka 23 hari. Stok tersebut diklaim masih berada di atas ambang batas minimum nasional yang ditetapkan pemerintah selama 21 hari. Penegasan ini disampaikan Bahlil dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, pada Selasa (3/3).
Meskipun stok dianggap aman, Bahlil mengakui bahwa cadangan energi tidak bisa ditingkatkan secara signifikan karena keterbatasan infrastruktur. Kapasitas tangki penyimpanan atau *storage* nasional saat ini hanya mampu menampung pasokan energi maksimal untuk 25 hingga 26 hari saja. Kondisi ini membuat penambahan volume impor menjadi tidak efektif jika tidak dibarengi dengan perluasan fasilitas penampungan.
Guna mengatasi kendala infrastruktur tersebut, pemerintah berencana membangun fasilitas penyimpanan energi baru dengan kapasitas hingga tiga bulan sesuai standar internasional. Proyek strategis ini sekarang tengah memasuki tahap studi kelayakan dan dijadwalkan mulai dibangun di wilayah Sumatera pada tahun ini. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi Indonesia dalam menghadapi fluktuasi pasar global di masa depan.
Bahlil juga menyoroti ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz. Jalur laut vital tersebut dilewati oleh sekitar 20,1 juta barel minyak per hari, termasuk pasokan minyak mentah yang diimpor oleh Indonesia. "20,1 juta barel per day itu termasuk di dalamnya adalah Indonesia melakukan impor crude dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz," ujar Bahlil.
Mengingat ketidakpastian konflik, pemerintah memutuskan untuk mengambil langkah preventif dengan mengalihkan sebagian mentah. Indonesia mulai mengalihkan pembelian minyak dari Timur Tengah ke Amerika Serikat untuk menjamin keberlanjutan pasokan energi dalam negeri. Sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia selama ini memang bergantung pada stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Selain minyak mentah, kebijakan serupa juga diterapkan pada pasokan LPG yang tahun ini kebutuhannya meningkat menjadi 7,8 juta ton. Pemerintah sedang menyiapkan opsi pengalihan pasokan LPG dari negara-negara yang jalurnya tidak melewati Selat Hormuz untuk meminimalisir risiko distribusi. Sementara itu, stok BBM jenis RON 90 hingga 98 dipastikan aman karena sumber impornya berasal dari luar kawasan terdampak.
Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin menyalahkan pihak mana pun terkait keterbatasan kapasitas penyimpanan energi saat ini. Fokus utama saat ini adalah melakukan perbaikan menyeluruh pada sistem ketahanan energi nasional agar lebih mandiri dan tangguh. Upaya diversifikasi negara asal impor menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan energi bagi masyarakat luas.
Sumber: Cnnindonesia
Sumber: impor minyak