JAKARTA, BisnisMarket.com – Bayang-bayang krisis energi menyelimuti pasar global seiring memanasnya situasi di Selat Hormuz. Sebagai jalur yang melayani 21 juta barel minyak per hari, penutupan selat ini bukan sekadar isu geopolitik, melainkan ancaman langsung bagi dapur pacu ekonomi Indonesia.
1. Ketahanan Stok Nasional: Angka di Balik Krisis
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT Pertamina (Persero), Indonesia saat ini memiliki cadangan operasional BBM yang cukup stabil, namun terbatas pada durasi harian.
Pertalite dan Solar: Rata-rata bertahan selama 21 hingga 25 hari.
LPG: Memiliki ketahanan sekitar 15 hingga 18 hari (paling rentan karena ketergantungan impor dari Timur Tengah sangat tinggi).
Avtur: Relatif aman di angka 30 hari ke atas.
Artinya, jika distribusi minyak mentah terhenti total hari ini, Indonesia memiliki waktu kurang dari satu bulan sebelum cadangan di tangki-tangki penyimpanan (storage) mencapai titik kritis.
2. Mengapa Indonesia Begitu Terpapar?
Meski Indonesia adalah produsen minyak, konsumsi domestik kita jauh melampaui produksi nasional (lifting).