JAKARTA, BisnisMarket.com -
Pernah menjadi kekuatan utama yang membangun jaringan komunikasi Indonesia dari
nol hingga terhubung seluruh nusantara, nama PT Industri Telekomunikasi
Indonesia (Persero) atau PT INTI kini terancam hilang dari peta bisnis
nasional. Keputusan mengejutkan untuk membubarkan perusahaan pelat merah
legendaris ini resmi diumumkan langsung oleh pucuk pimpinan Danantara, menandai
babak baru sekaligus akhir sejarah panjang salah satu perintis teknologi dalam
negeri.
Dilansir dari Kompas.com (24/5), langkah ini bukan
keputusan sepihak, melainkan bagian dari rencana besar penataan ulang total
seluruh aset negara agar lebih efisien, kompetitif, dan bernilai tinggi di
kancah global. Namun di balik keputusan strategis ini, tersimpan kisah panjang
kejayaan, tantangan berat, dan pelajaran mahal tentang bagaimana bisnis negara
harus beradaptasi dengan zaman yang berubah sangat cepat.
Dulu Sangat Dikenal, Kini Menghadapi
Masalah Berat
Dalam acara Jogja Financial Festival 2026 di
Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026), Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO
Danantara, Dony Oskaria, berbicara terus terang mengenai nasib perusahaan yang
berpusat di Bandung ini.
"Mungkin kita mengenal dulu banyak BUMN-BUMN
terkenal, kalau di Bandung itu ada PT INTI yang sangat terkenal sekarang
menghadapi permasalahan mungkin akan kita tutup juga," ujar Dony dengan
nada serius, mengungkapkan keputusan yang menggetarkan dunia usaha nasional.
PT INTI bukanlah perusahaan sembarangan. Berdiri sejak
30 Desember 1974, perusahaan ini pernah menjadi tulang punggung pembangunan
infrastruktur telekomunikasi Indonesia. Di masa emasnya, antara tahun 1985
hingga 1998, PT INTI ditunjuk pemerintah sebagai pemasok tunggal Sentral
Telepon Digital Indonesia (STDI), dan menguasai sekitar 60% pangsa pasar
infrastruktur telekomunikasi nasional. Hampir setiap sambungan telepon dan
perangkat jaringan yang dipakai masyarakat saat itu berasal dari tangan dingin
para insinyur dan pekerja PT INTI.
Namun seiring berjalannya waktu dan perubahan drastis
lanskap industri teknologi, posisi kokoh itu perlahan runtuh. Persaingan makin
ketat, pergeseran ke teknologi digital, serta pola pengelolaan yang dinilai
tidak lagi relevan membuat kinerja keuangan terus tertekan. Padahal saat ini PT
INTI masih beroperasi memproduksi kabel serat optik, perangkat energi cerdas,
tabung LPG komposit, hingga merakit alat cerdas untuk jaringan pita lebar dan
kartu pintar. Sayangnya, produk-produk tersebut belum cukup kuat mengangkat
kembali performa perusahaan ke tingkat kejayaan dulu.
Masalah Dasar: Berjalan Sendiri-sendiri
Tanpa Dukungan
Mengapa perusahaan yang dulu begitu kuat bisa jatuh?
Dony Oskaria menjelaskan akar masalah utamanya ada pada cara pengelolaan BUMN
selama puluhan tahun.