JAKARTA, BisnisMarket.com- Pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (27/4/2026), rupiah kembali mengalami pelemahan.
Mata uang Indonesia tercatat melemah 0,03% di posisi Rp17.210 per dolar AS, mengikuti tren depresiasi yang sudah berlangsung sejak pekan lalu, dimana rupiah menyentuh posisi terlemah sepanjang sejarah.
Pelemahan rupiah pagi ini terus berlanjut, dengan nilai tukar mata uang tersebut menurun lebih jauh 0,1% ke angka Rp17.223/US$ pada pukul 09:25 WIB. Penurunan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia yang kembali menyentuh level tinggi.
Harga minyak mentah jenis Brent mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 2,3% ke level US$107,73 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$96. Meningkatnya harga energi ini dipicu oleh negosiasi yang menemui jalan buntu antara Amerika Serikat dan Iran, sehingga menciptakan ketegangan tambahan di pasar global.
Meski harga minyak dunia meroket, sejumlah mata uang di kawasan Asia menunjukkan penguatan. Dolar Taiwan memimpin dengan kenaikan 0,3%, diikuti oleh ringgit Malaysia (0,29%) dan won Korea Selatan (0,26%). Namun, rupiah justru berada dalam posisi yang tertekan, bersama dengan dolar Hongkong yang juga tercatat melemah.
Tingginya ketegangan geopolitik ini memicu keresahan di pasar keuangan internasional, terutama dalam sektor energi. Beberapa negara di kawasan Asia bahkan mulai mencari solusi dengan membeli minyak dari Rusia, setelah Amerika Serikat melonggarkan sebagian sanksi terhadap negara tersebut.
Pembelian minyak Rusia diperkirakan akan semakin meningkat menjelang 16 Mei 2026, yang memberi dampak langsung pada pasar energi global.
Di sisi domestik, tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Para pelaku pasar mencermati dengan cermat data ekspor-impor untuk bulan Maret, yang akan dirilis pada 4 Mei mendatang. Data ini diyakini akan menjadi indikator penting bagi keseimbangan eksternal ekonomi Indonesia. Jika surplus neraca perdagangan Maret tidak mencapai angka yang diharapkan, yaitu lebih dari US$1,5 miliar, maka risiko pelebaran defisit neraca berjalan akan semakin nyata, yang tentu saja dapat memperburuk kondisi rupiah.
Selain itu, ada harapan dari arus modal asing yang masuk ke pasar instrumen moneter, yang tercatat sebesar Rp29 triliun sepanjang bulan April 2026. Namun, meskipun inflow modal asing positif, pasar Surat Utang Negara (SUN) mengalami tekanan aksi jual pada penutupan perdagangan pekan lalu.