BISNISMARKET.COM - Rupiah diproyeksikan melanjutkan tren depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Jumat, 6 Maret 2026. Tekanan ini muncul akibat akumulasi sentimen global yang membebani mata uang domestik sepanjang sesi sebelumnya. Pasar tengah mencermati berbagai dinamika geopolitik dan kebijakan moneter internasional yang sedang memanas.

Sebagai gambaran, pada penutupan perdagangan Kamis (5/3/2026), mata uang Garuda harus rela ditutup melemah signifikan di posisi Rp16.905 per dolar AS menurut data Bloomberg. Sementara itu, indeks dolar AS justru menunjukkan penguatan dengan kenaikan 0,28% mencapai level 99,04, menandakan dominasi dolar di pasar global.

Pengamat komoditas dan juga mata uang, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi bahwa pergerakan rupiah pada hari Jumat ini diperkirakan berada dalam rentang pelemahan antara Rp16.900 hingga Rp16.940 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan tingkat ketidakpastian yang masih tinggi di pasar keuangan hari itu.

Salah satu faktor utama yang menjadi bayang-bayang pergerakan rupiah adalah memanasnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi ini diperparah setelah Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Kamis pagi, memaksa warga berlindung saat konflik memasuki hari keenam.

Eskalasi ketegangan ini berlanjut dengan insiden sebelumnya, termasuk penenggelaman kapal perang Iran oleh kapal selam AS di lepas pantai Sri Lanka pada Rabu, yang menewaskan sedikitnya 80 orang. Selain itu, pasukan Iran juga dilaporkan menyerang kapal tanker minyak di dekat Selat Hormuz.

Di sisi lain, perkembangan domestik juga mencakup respons Bank Indonesia terhadap pemeringkatan dari Fitch Ratings yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level BBB, meskipun dengan penyesuaian outlook menjadi negatif. Bank Indonesia meyakini fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dan stabilitas sistem keuangan terjaga baik.

Ke depan, Bank Indonesia meyakini prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah tetap solid, didukung oleh inflasi terkendali yang diperkirakan berada dalam kisaran 4,9–5,7% pada tahun 2026. Meskipun sentimen global menekan, fundamental domestik diharapkan menahan pelemahan lebih lanjut.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Market.bisnis. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.