JAKARTA, BisnisMarket.com -
Setelah sekian lama bergelut di level yang menekan, rupiah akhirnya menemukan
momentum untuk tampil gagah. Mata uang negara kita berhasil mencatatkan
penguatan selama tiga hari beruntun, hingga akhirnya menutup perdagangan pada
Kamis (16 Juli 2026) di posisi Rp17.985 per dolar AS. Sebuah pencapaian yang
membawa angin segar bagi seluruh pelaku ekonomi di tengah ketidakpastian global
yang masih membayangi.
Mengikuti Langkah Mata Uang Asia Lainnya
Pergerakan positif rupiah ini sejalan dengan sebagian
besar mata uang di kawasan Asia. Won Korea Selatan menjadi yang paling tajam
menguat hingga 0,84 persen, disusul rupiah dengan kenaikan 0,45 persen,
kemudian baht Thailand dan ringgit Malaysia. Sementara itu, yen Jepang, peso
Filipina, dolar Singapura, dan yuan Tiongkok hanya mencatatkan penguatan
terbatas. Hanya dolar Taiwan, rupee India, dan dolar Hong Kong yang bergerak
melemah pada hari itu.
Tiga Pilar Utama Penopang Kekuatan Rupiah
Mengapa rupiah tiba-tiba mampu melesat naik dan
menembus batas psikologis Rp18.000/US$? Ternyata ada sejumlah sentimen positif
yang menyatu membentuk landasan kokoh.
Pertama, lembaga pemeringkat S&P Ratings tetap
menyematkan label layak investasi atau investment grade BBB dengan prospek
stabil bagi Indonesia. Hal ini menjadi bukti kepercayaan dunia internasional
terhadap kondisi fiskal dan ekonomi nasional.
Kedua, pemerintah berkomitmen penuh untuk memperkuat
stabilisasi harga pangan serta menjaga laju inflasi tetap sesuai target bank
sentral, meskipun ada ancaman gangguan pasokan akibat fenomena El-Nino.
Ketiga, realisasi investasi Indonesia pada kuartal
II-2026 tumbuh 7,1 persen secara tahunan, mencapai Rp511,8 triliun. Dari jumlah
itu, Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar Rp257,7 triliun. Secara
kumulatif semester I-2026, total investasi tembus Rp1.010,6 triliun atau naik
7,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, dengan PMA mencapai Rp507,6
triliun.
"Kombinasi sentimen domestik yang positif itu
cukup memperkuat keyakinan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia di
tengah ketidakpastian global saat ini," dikutip dari laporan Bloomberg
Technoz (16/7).