BISNISMARKET.COM - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) telah mengumumkan data terbarunya mengenai realisasi penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hingga pertengahan tahun 2026.
Data yang dirilis mencakup periode hingga tanggal 30 Juni 2026, memberikan gambaran komprehensif tentang distribusi energi di Indonesia.
Secara spesifik, penyaluran minyak solar bersubsidi, yang dikategorikan sebagai Jenis BBM Tertentu (JBT), menunjukkan angka yang cukup signifikan.
Volume total minyak solar bersubsidi yang berhasil disalurkan hingga akhir Juni 2026 tercatat mencapai 9,48 juta kiloliter.
Fenomena ini terjadi bersamaan dengan adanya penyesuaian harga pada jenis BBM non-subsidi yang berlaku di pasaran.
Kenaikan harga BBM non-subsidi ini diduga kuat mendorong pergeseran konsumsi masyarakat ke bahan bakar yang masih disubsidi.
"Hingga tanggal 30 Juni 2026, penyaluran minyak solar bersubsidi, yang juga dikenal sebagai Jenis BBM Tertentu (JBT), telah mencapai angka signifikan. Volume yang tersalurkan adalah sebesar 9,48 juta kiloliter," demikian data yang dirilis BPH Migas.
Data ini memberikan gambaran terkini mengenai pola konsumsi energi di Indonesia, terutama terkait BBM bersubsidi.
Pihak BPH Migas terus memantau secara ketat distribusi dan konsumsi BBM bersubsidi untuk memastikan ketersediaan dan ketepatan sasaran.