DEPOK, BisnisMarket.com - Penggunaan uang tunai di Indonesia mulai mengalami penurunan signifikan seiring dengan pesatnya pertumbuhan transaksi digital melalui uang elektronik, QRIS, dan dompet digital (e-wallet).
Temuan ini diungkap dalam riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang berjudul How E-Money is Changing the Demand for Cash in Indonesia: Economic Modelling.
Dalam riset tersebut, LPEM FEB UI menemukan bahwa penggunaan uang kartal, khususnya pecahan kecil hingga menengah, mengalami penurunan drastis seiring masifnya penggunaan instrumen pembayaran digital oleh masyarakat.
"Efek substitusi atau penggantian terkuat diamati pada uang kertas denominasi kecil hingga menengah, yakni pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000," tulis LPEM FEB UI dalam hasil riset yang disusun oleh Jahen F. Rezki dan rekan, dikutip Rabu (24/6/2026).
Pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000 selama ini merupakan alat pembayaran utama untuk transaksi sehari-hari, seperti transportasi, pembelian makanan, layanan pengantaran daring, hingga transaksi ritel bernilai kecil. Kehadiran uang elektronik dan pembayaran berbasis QRIS kini mulai mengambil alih fungsi uang pecahan tersebut.
Sementara itu, dampak digitalisasi pembayaran terhadap uang pecahan besar relatif lebih terbatas. Riset menunjukkan uang kertas pecahan Rp50.000 dan Rp100.000 masih banyak digunakan untuk transaksi bernilai besar maupun disimpan masyarakat sebagai cadangan dana.
"Efek pergeseran lebih lemah untuk uang kertas denominasi tinggi (Rp50.000 dan Rp100.000), yang lebih cenderung disimpan untuk tujuan berjaga-jaga atau digunakan dalam transaksi besar dan informal," lanjut laporan tersebut.
Temuan serupa juga terlihat pada uang logam. Peneliti tidak menemukan bukti yang signifikan bahwa uang logam mulai ditinggalkan masyarakat. Uang logam tetap dianggap penting untuk transaksi bernilai sangat rendah dan keperluan memberikan kembalian.
LPEM FEB UI menilai pergeseran dari pembayaran tunai ke digital membawa konsekuensi penting bagi otoritas moneter. Perubahan pola transaksi ini berpotensi memengaruhi permintaan uang kartal dan pengelolaan jumlah uang beredar dalam perekonomian.