BISNISMARKET.COM - Prospek sektor manufaktur di Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam waktu dekat. Diprediksi, fase stagnansi ini akan terus menghantui kinerja industri hingga paruh kedua tahun 2026 mendatang.
Kondisi stagnansi ini diperkirakan akan terus berlanjut jika pemerintah tidak segera mengambil langkah konkret. Langkah yang dimaksud adalah implementasi reformasi struktural yang lebih substansial dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian.
Hal ini disampaikan oleh seorang pakar dari lembaga terkemuka di Indonesia. Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyoroti situasi ini.
Narasumber tersebut adalah Teuku Riefky, yang secara khusus menggarisbawahi urgensi percepatan pemulihan sektor industri. Ia melihat adanya hambatan besar yang perlu diatasi segera oleh pihak berwenang.
"Prospek sektor manufaktur Indonesia diperkirakan akan tetap berada dalam fase stagnansi sepanjang paruh kedua tahun 2026," ujar Teuku Riefky.
Beliau menambahkan bahwa situasi ini akan terus berlanjut apabila pemerintah belum segera melaksanakan reformasi struktural yang lebih substansial dan berdampak nyata. Pernyataan ini menekankan perlunya tindakan nyata dari pemerintah.
Dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM, tantangan besar dalam upaya pemulihan sektor industri ini menjadi fokus utama perhatian para ekonom. Mereka mendesak agar kebijakan yang diambil benar-benar menyentuh akar permasalahan.
Oleh karena itu, desakan kuat kini diarahkan kepada pemerintah untuk segera merumuskan dan menerapkan reformasi yang bersifat fundamental. Reformasi ini diharapkan mampu mendorong kembali pertumbuhan sektor manufaktur yang sempat melambat.