JAKARTA, BisnisMarket.com
- Iklim investasi dalam negeri kembali menunjukkan sinyal positif. Hal ini
tergambar nyata dalam hasil lelang Surat Utang Negara atau SUN yang digelar
pada 7 Juli 2026 lalu. Di tengah dinamika perekonomian, lelang kali ini
mencatat pergerakan yang memperkuat kepercayaan terhadap aset berdenominasi
rupiah.
Lonjakan Penawaran yang Tinggi
Data resmi dilansir dari Bloomberg Technoz (8/7)
mengutip keterangan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko
Kementerian Keuangan menyebutkan total penawaran yang masuk mencapai Rp55,09
triliun. Angka ini naik sebesar Rp8,51 triliun atau sekitar 18 persen
dibandingkan lelang sebelumnya yang tercatat sebesar Rp46,58 triliun.
Kenaikan minat ini turut mendorong jumlah dana yang
berhasil dihimpun pemerintah menjadi Rp32 triliun, meningkat 6,7 persen dari
posisi Rp30 triliun pada lelang tanggal 23 Juni 2026. Pemerintah tetap
menjalankan kebijakan selektif dalam menerima penawaran.
“Perbedaan lonjakan penawaran yang sebesar 18 persen
dengan kenaikan nilai yang dimenangkan hanya 6,7 persen, mengindikasikan bahwa
pemerintah tak secara otomatis menyerap seluruh tambahan dana yang ditawarkan
investor,” dikutip dari laporan tersebut.
Langkah ini membuat rasio penyerapan terhadap total
penawaran turun dari 64,4 persen menjadi 58,1 persen. Pemerintah hanya memilih
penawaran dengan tingkat bunga paling kompetitif guna menjaga biaya utang tetap
terkendali.
Penurunan Yield di Sebagian Besar Seri
Pergerakan imbal hasil atau yield menjadi catatan
penting lainnya dalam lelang ini. Sebagian besar seri SUN mencatat penurunan
nilai, yang menandakan penurunan persepsi risiko dari sisi pelaku pasar.
Penurunan paling tajam terjadi pada seri FR0109 dengan
jangka waktu 5 tahun, turun sekitar 10,1 basis poin menjadi 7,1 persen.
Penurunan juga tercatat pada seri FR0108 berjangka 9 tahun, FR0106 selama 14
tahun, FR0107 selama 19 tahun, hingga FR0102 selama 28 tahun.