JAKARTA, BisnisMarket.com - Hari
ini, pergerakan rupiah kembali menjadi sorotan tajam pelaku pasar dan pengamat
ekonomi. Sempat dibuka pada posisi yang menguji batas psikologis, mata uang
Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang mengejutkan hanya dalam hitungan
menit. Apakah ini tanda awal pemulihan atau sekadar jeda sesaat dari tekanan
yang terus membayangi?
Pergerakan Cepat di Awal Perdagangan
Dilansir dari Bloomberg Technoz (7/7), rupiah membuka
sesi perdagangan Selasa ini dengan pelemahan sebesar 0,03 persen ke posisi
Rp18.000 per dolar AS. Namun, tak butuh waktu lama untuk membalikkan keadaan.
“Lama berselang rupiah menguat terbatas 0,04 persen ke posisi Rp17.988 per
dolar AS pada pukul 09.05 WIB, lalu melanjutkan penguatan ke Rp17.980 per dolar
AS pada pukul 09.23 WIB,” tulis laporan tersebut.
Pergerakan yang cukup liar ini memang terlihat sejak
awal pekan. Bahkan pada hari sebelumnya, rupiah sempat tercatat melemah hingga
Rp18.006 per dolar AS pada sesi tengah hari. Penguatan yang terjadi pagi ini
sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang kompak menguat. Won
Korea Selatan memimpin dengan kenaikan 0,35 persen, diikuti ringgit Malaysia
dan yen Jepang masing-masing naik 0,16 persen.
Sinyal Menenangkan dari AS
Kondisi ini muncul setelah Gubernur Federal Reserve
AS, Christopher Waller, memberikan sinyal yang lebih menenangkan bagi pasar
global. Ia menegaskan bahwa panduan kebijakan ke depan tetap menjadi instrumen
penting, selama diterapkan secara fleksibel. “Pernyataan tersebut dipandang
sebagai upaya meredakan kekhawatiran pasar bahwa The Fed akan sepenuhnya
meninggalkan praktik pemberian panduan arah suku bunga,” jelas Bloomberg
Technoz.
Kepastian cara penyampaian kebijakan ini mengurangi
ketidakpastian pasar, sehingga arus modal cenderung lebih tenang dan memberikan
ruang bagi mata uang kawasan untuk menguat.
Tekanan dari Dalam Negeri Masih Ada
Namun, kepercayaan dari faktor eksternal ini saja
belum cukup untuk mengangkat rupiah secara signifikan. Tekanan dari dalam
negeri masih terasa berat. Menurut laporan yang sama, rupiah dibayangi arus
keluar modal dari pasar saham akibat penyesuaian indeks global, serta
ketidakseimbangan neraca perdagangan dan fiskal.