JAKARTA, BisnisMarket.com -
Pernahkah Anda melihat pergerakan mata uang yang berubah arah secepat kilat?
Itulah yang terjadi pada Rupiah di awal sesi perdagangan hari ini. Sempat
membuka hari dengan sinar harapan, namun tak lama kemudian mata uang kita
kembali tertekan oleh arus dinamika pasar global yang bergerak sangat dinamis.
Awal Menguat, Lalu Berbalik Turun
Pada pembukaan sesi perdagangan Rabu (8 Juli 2026),
Rupiah sempat mencatat penguatan terbatas sebesar 0,02 persen dan berada di
posisi Rp17.977 per Dolar AS. Namun, kekuatan itu tidak bertahan lama. Hanya
dalam waktu singkat, tepatnya pada pukul 09.11 WIB, Rupiah berbalik arah dan
melemah sekitar 0,07 persen ke level Rp17.994 per Dolar AS.
Dikutip dari Bloomberg Technoz (8/7): “Rupiah membuka
sesi perdagangan Rabu (8/7/2026) dengan penguatan terbatas 0,02 persen di
Rp17.977/US\(. Namun, tak lama berselang, rupiah berbalik arah dan menyusut
0,07 persen ke Rp17.994/US\).”
Dolar AS Menguat, Harga Minyak Melonjak
Perubahan arah ini tidak terjadi tanpa alasan. Indeks
Dolar AS kembali terapresiasi naik 0,11 persen ke angka 101,13. Hal ini terjadi
seiring memburuknya prospek kesepakatan damai global menyusul serangan terhadap
kapal dagang di kawasan Selat Hormuz.
Ketidakpastian politik itu langsung berdampak pada
komoditas energi. Harga minyak dunia melonjak tajam sebesar 2,25 persen, dari
sebelumnya US$74,16 menjadi US$75,83 per barel. Kenaikan ini langsung menekan
mayoritas mata uang di kawasan Asia, membuat sebagian besar bergerak di zona
pelemahan.
Nasib Berbeda Mata Uang Asia
Di antara mata uang se-Wilayah Asia, Ringgit Malaysia
tercatat paling tajam pelemahannya, disusul Peso Filipina, Baht Thailand, Yen
Jepang, Yuan Tiongkok, dan Dolar Singapura.