WASHINGTON DC, BisnisMarket.com – Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi optimis proyeksi ekonomi Iran untuk tahun 2026. Meskipun demikian, ekonomi negara tersebut diperkirakan masih akan mengalami kontraksi (zona minus) sebesar -5,4%, yang dipengaruhi oleh dampak berkelanjutan dari konflik di Timur Tengah.

Dalam laporan terbarunya, World Economic Outlook (WEO) edisi Juli 2026, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Iran mencapai -5,4% pada 2026. Angka ini mengalami peningkatan 0,7% dibandingkan proyeksi sebelumnya pada WEO edisi April, di mana IMF memperkirakan kontraksi sebesar -6,1% untuk tahun yang sama.

"Pertumbuhan di Iran pada tahun 2026 direvisi naik sebesar 0,7 poin persentase, relatif terhadap April, menjadi -5,4%," tulis IMF dalam laporannya.

Peningkatan proyeksi ini mencerminkan beberapa faktor positif, termasuk kinerja ekspor minyak Iran yang lebih baik pada bulan Maret dan April, serta adanya pelonggaran terbatas pada pembatasan ekspor negara tersebut. Namun, IMF juga merevisi turun proyeksi untuk tahun 2027 sebesar 0,3 poin persentase karena kontraksi yang dianggap kurang signifikan pada tahun sebelumnya.

Konteks Ekonomi Global dan Risiko Timur Tengah

Revisi proyeksi Iran ini terjadi dalam konteks proyeksi pertumbuhan global IMF yang diperkirakan sebesar 3% pada tahun 2026, sedikit menurun dari rata-rata 3,5% yang diproyeksikan untuk periode 2024-2025. IMF secara tegas menyatakan bahwa perlambatan pertumbuhan global ini mencerminkan efek berkelanjutan dari perang di Timur Tengah.

IMF menilai risiko terhadap prospek ekonomi global masih cenderung negatif. Konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi memperpanjang volatilitas harga komoditas, mengancam rantai pasokan, menaikkan harga, dan memberatkan kondisi keuangan global. Selain itu, fragmentasi perdagangan juga diprediksi dapat meningkat, yang dapat merugikan produksi dan menaikkan harga.

Meski demikian, IMF mencatat bahwa ekonomi dunia telah menunjukkan ketahanan yang lebih baik dalam mengatasi guncangan akibat perang dibandingkan kekhawatiran sebelumnya. Lonjakan harga minyak yang lebih besar berhasil dihindari berkat pengurangan persediaan, peningkatan produksi di luar wilayah Teluk, serta langkah-langkah untuk mengurangi permintaan minyak.

IMF juga mengasumsikan skenario pemulihan ekonomi yang berbentuk 'V', yaitu pertumbuhan yang lebih lemah pada tahun berjalan diikuti oleh pemulihan pada tahun berikutnya.