KALIMANTAN TENGAH, BisnisMarket.com - Nama Andrew Kalaweit kini semakin dikenal luas bukan hanya sebagai kreator konten, tetapi sebagai salah satu wajah baru dalam gerakan konservasi lingkungan global. Pemuda yang sering dijuluki "Tarzan Kalimantan" ini berhasil membuktikan bahwa teknologi dan media sosial bisa menjadi senjata ampuh untuk melindungi alam.
Lahir dengan nama lengkap Andrew Ananda Brule pada 29 Januari 2004 di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Andrew merupakan putra sulung dari pasangan Aurelien Francis Brule (yang akrab disapa Chanee Kalaweit) dan Nur Pradawati.
Darah campuran Prancis dari sang ayah dan Dayak dari sang ibu memberinya perspektif unik. Sejak usia 5 bulan, Andrew sudah diperkenalkan dengan kehidupan hutan. Ayahnya adalah pendiri Yayasan Kalaweit, sebuah organisasi non-profit yang fokus pada penyelamatan owa (gibbon) dan perlindungan habitat hutan di Indonesia sejak 1998.
Karier Digital dan Edukasi Konservasi
Andrew mulai mencuri perhatian publik melalui kanal YouTube-nya. Berbeda dengan vlogger pada umumnya, Andrew menyuguhkan konten petualangan ekstrem, seperti bertahan hidup 24 jam di tengah hutan sendirian, memanjat pohon raksasa menggunakan teknik tree climbing, hingga berpatroli menggunakan paramotor.
Namun, di balik aksi heroiknya, terdapat pesan edukasi yang kuat. Melalui lensa kamera yang sinematik, ia memperlihatkan keindahan sekaligus ancaman nyata terhadap hutan Kalimantan, mulai dari pembalakan liar hingga hilangnya habitat satwa liar.
Prestasi Internasional: Forbes 30 Under 30 Asia 2025
Tahun 2025 menjadi tonggak sejarah bagi Andrew. Ia berhasil masuk dalam daftar bergengsi Forbes 30 Under 30 Asia untuk kategori Media, Advertising dan Marketing. Penghargaan ini diberikan atas konsistensinya dalam menggunakan platform digital untuk mengampanyekan pelestarian lingkungan secara inovatif.
Andrew dianggap berhasil mendefinisikan ulang narasi konservasi sehingga relevan dan menarik bagi generasi muda. Ia menunjukkan bahwa menjaga bumi bukan hanya tugas akademisi atau pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif yang bisa dimulai dari kreativitas digital.