JAKARTA, BisnisMarket.com — Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan krisis pupuk yang melanda banyak negara, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengambil langkah berani dengan menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20%. 

Kebijakan ini diambil sebagai respons cepat untuk menjaga ketahanan pangan nasional dan membantu petani Indonesia menghadapi dampak lonjakan harga pupuk dunia yang kian melambung.

Krisis pupuk global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah dan pembatasan ekspor oleh China, telah mengancam stabilitas produksi pangan di banyak negara.

Namun, Presiden Prabowo dengan tegas menunjukkan komitmennya untuk melindungi petani lokal melalui kebijakan yang langsung meringankan beban mereka.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa kebijakan penurunan harga pupuk ini adalah langkah antisipatif yang tepat, yang bertujuan memastikan produksi pangan tetap berjalan lancar meskipun harga pupuk global meningkat drastis. Kebijakan ini meliputi berbagai jenis

pupuk bersubsidi seperti urea, NPK, dan ZA, yang merupakan bahan pokok bagi petani Indonesia.

Penurunan harga pupuk ini dilakukan bersamaan dengan deregulasi dan simplifikasi proses distribusi.

Pemerintah melalui Instruksi Presiden telah memangkas 145 regulasi pupuk yang selama ini menghambat alur penyaluran dari Kementerian Pertanian ke PT Pupuk Indonesia dan langsung sampai ke petani. 

Selain itu, pemerintah juga memperluas jaringan distribusi hingga ke tingkat desa untuk mempermudah akses petani pada pupuk subsidi tepat waktu dan tepat harga.