JAKARTA, BisnisMarket.com - Kesepakatan tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan besar di tengah dinamika perang dagang global. Di tengah kunjungan kerja ke Amerika, Presiden Prabowo Subianto dikabarkan siap menandatangani perjanjian penting yang diyakini mampu menjaga performa ekspor nasional sekaligus membuka ruang ekspansi lebih luas bagi pelaku UMKM dan industri dalam negeri.

Langkah ini dipandang sebagai strategi besar pemerintah untuk memastikan Indonesia tetap kompetitif di pasar global, khususnya di pasar Amerika Serikat yang selama ini menjadi salah satu tujuan ekspor utama.

Komitmen Pemerintah Amankan Kepentingan Nasional

Executive Director Segara Institute, Piter Abdullah, menilai pemerintah terlihat serius memperjuangkan kesepakatan tarif yang paling menguntungkan bagi Indonesia. Menurutnya, komitmen Presiden dan tim negosiator menunjukkan upaya maksimal agar Indonesia tidak dirugikan dalam perjanjian tersebut.

Sejumlah sektor unggulan disebut perlu menjadi prioritas dalam negosiasi dagang Indonesia–AS. Komoditas seperti crude palm oil (CPO), tekstil, alas kaki, serta karet selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia ke pasar Amerika. Sektor-sektor ini bukan hanya menyumbang devisa, tetapi juga terhubung erat dengan rantai pasok UMKM di berbagai daerah.

Jika tarif lebih kompetitif berhasil diamankan, maka efeknya tidak hanya terasa pada eksportir besar, tetapi juga pelaku UMKM yang menjadi bagian dari ekosistem produksi nasional.

Surplus Neraca Perdagangan Jadi Modal Kuat

Optimisme terhadap kesepakatan tarif Indonesia–AS semakin menguat setelah melihat kinerja neraca perdagangan. Sepanjang Januari–Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 41,05 miliar. Ini menjadi surplus ke-68 kali berturut-turut sejak Mei 2020.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa di tengah tekanan perang tarif global, Indonesia masih mampu menjaga stabilitas perdagangan luar negeri. Dengan kesepakatan baru ini, peluang untuk mempertahankan bahkan memperbesar surplus neraca perdagangan dinilai semakin terbuka.