JAKARTA, BisnisMarket.com - Proyek hilirisasi nasional tahap II resmi dimulai dengan nilai investasi fantastis mencapai Rp116 triliun guna mempercepat transformasi industri berbasis sumber daya alam. Peresmian ini dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto bersama CEO Danantara Rosan Roeslani di Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai kelanjutan proyek strategis ini mengemban misi besar dalam meningkatkan pendapatan negara secara signifikan. Direktur Program INDEF Esther Sri Astuti menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada sejauh mana dampak sosialnya dirasakan masyarakat.

"Ini bisa menjadi peluang baik jika ada peningkatan produktivitas sektor yang menjadi fondasi penting dalam keberhasilan hilirisasi," ujar Esther saat dihubungi di Jakarta. Ia menambahkan bahwa hilirisasi tahap II ini akan memberikan nilai tambah tinggi pada komoditas unggulan seperti nikel, sawit, dan tembaga.

Esther juga menyoroti pentingnya penerapan teknologi modern dan pembangunan fasilitas smelter untuk mendorong efisiensi operasional industri nasional. Penggunaan inovasi terbaru diharapkan mampu mengubah proses industrialisasi menjadi perjalanan menuju ekonomi yang lebih maju serta berkelanjutan.

Selain aspek ekonomi makro, INDEF optimis bahwa penciptaan kawasan industri baru akan membawa dampak sosial yang nyata bagi masyarakat lokal. Esther memproyeksikan pembukaan lapangan kerja baru serta peningkatan pendapatan bagi para petani dan petambang di sekitar wilayah operasional.

Senada dengan hal tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa setiap keputusan dalam proyek hilirisasi ini harus selalu berbasis pada perhitungan objektif. Beliau menginstruksikan agar rencana industri terus dikaji agar tetap adaptif terhadap perkembangan teknologi demi memberikan keuntungan maksimal bagi rakyat.

Direktur Program Center for Policy Studies Piter Abdullah turut menilai hilirisasi sebagai langkah strategis untuk menghentikan ekspor komoditas dalam bentuk mentah. Ia mencontohkan komoditas kelapa yang selama ini memiliki nilai ekonomi terbatas karena sering dikirim ke luar negeri tanpa proses pengolahan lanjutan.

Piter melihat percepatan program dari fase awal ke fase berikutnya sebagai sinyal agresif pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi nasional. Konsistensi dalam menjalankan tahapan hilirisasi ini dianggap sangat krusial untuk memastikan terciptanya lapangan kerja yang luas secara jangka panjang.