Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada pembukaan perdagangan Rabu (4/3) pagi. Indeks kebanggaan tanah air ini sempat tersungkur hingga 4,4 persen ke level 7.896 akibat sentimen negatif global yang masif. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan investor domestik yang menyaksikan penurunan tajam secara tiba-tiba di layar bursa.
Berdasarkan data RTI Infokom, IHSG sempat menyentuh titik terendah di posisi 7.588 sebelum sedikit merangkak naik kembali. Volume perdagangan terpantau sangat besar mencapai 24,41 miliar lembar saham dengan nilai transaksi menembus Rp12,59 triliun. Sebanyak 701 saham tercatat melemah, sementara hanya 49 saham yang mampu menguat di tengah badai koreksi tersebut.
Pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) segera memberikan penjelasan resmi terkait anomali pasar yang terjadi hari ini. Penurunan IHSG ternyata selaras dengan tren negatif yang melanda bursa saham di kawasan regional Asia dan Australia secara serentak. Indeks seperti Nikkei, Taiwan, ASX, hingga Kospi Korea Selatan juga mengalami kontraksi yang sangat dalam pada waktu bersamaan.
Direktur Pengaturan dan Pengawasan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menyebutkan bahwa gejolak ini dipicu oleh faktor eksternal yang kuat. Menurutnya, eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas menjadi faktor utama penyebab kepanikan para pelaku pasar. "Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas," ujar Irvan melalui keterangan tertulis.
Langkah Iran menutup Selat Hormuz menjadi poin krusial yang memicu kekhawatiran munculnya krisis energi global yang serius. Situasi ini langsung berdampak pada lonjakan harga minyak mentah dunia yang merangkak naik secara signifikan dalam waktu singkat. Investor khawatir gangguan pasokan energi akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
Kepanikan di pasar modal tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan juga melumpuhkan bursa saham di Seoul secara drastis. Indeks Kospi Korea Selatan bahkan dilaporkan sempat mengalami trading halt setelah anjlok lebih dari 8 persen di sesi perdagangan. Irvan menegaskan bahwa sentimen ini sudah tercermin dengan jelas pada pergerakan harga komoditas minyak dunia saat ini.
Hingga berita ini diturunkan, frekuensi perdagangan di BEI telah tercatat sebanyak 1,478 juta kali transaksi oleh para investor. Meskipun pasar sempat tertekan sangat dalam, pergerakan indeks masih terus dipantau secara ketat oleh otoritas bursa guna menjaga stabilitas. Para pelaku pasar kini bersikap lebih waspada sembari mencermati perkembangan situasi keamanan terbaru di wilayah Timur Tengah.
Sumber: Cnnindonesia