BISNIS MARKET - Keputusan Gubernur Banten, Andra Soni, untuk menonaktifkan sementara Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga, Dini Fitria, memicu gelombang kemarahan publik.
Alih-alih mendapatkan dukungan, akun Instagram pribadi Andra Soni dan Wakil Gubernur Banten justru "digeruduk" atau dibanjiri komentar pedas dari netizen yang menilai keputusan tersebut keliru dan kontraproduktif bagi dunia pendidikan.
Pusat masalah bermula dari insiden di SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, pada Jumat 10 Oktober 2025. Kepala sekolah, Dini Fitria, mendapati seorang siswa berinisial ILP kedapatan merokok di lingkungan sekolah.
Saat menegur, Dini Fitria diduga melakukan kekerasan fisik dengan menampar atau menepuk pipi siswa tersebut.
Pihak keluarga siswa yang merasa tidak terima kemudian melaporkan kepala sekolah ke polisi. Insiden ini juga memicu aksi mogok belajar yang dilakukan oleh sebagian siswa.
Menanggapi kegaduhan dan laporan yang masuk, Gubernur Banten, Andra Soni, mengambil langkah cepat. Ia secara tegas memerintahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) untuk segera menonaktifkan Dini Fitria dari jabatannya, dengan alasan menjaga kondusivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) sambil menunggu pemeriksaan internal.
Keputusan penonaktifan sementara ini, yang dilakukan untuk mengatasi dugaan kekerasan di sekolah, justru berbalik arah di mata publik.
Warganet menilai bahwa kepala sekolah bertindak tegas dalam menegakkan aturan sekolah dan tidak seharusnya dihukum, sementara siswa yang melanggar justru terkesan dilindungi.
Kolom komentar di akun Instagram pribadi Andra Soni (serta Wakil Gubernur Banten) langsung dipenuhi kritik yang tajam dan bernada sarkas.