BISNISMARKET.COM - PT Ifishdeco Tbk (IFSH), emiten sektor pertambangan logam, berhasil mengamankan capaian penjualan konsolidasi sebesar Rp1,00 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan tipis sebesar 2,90% dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya yang berada di level Rp972,71 miliar. Pertumbuhan signifikan ini tidak lepas dari kontribusi bisnis hilirisasi, khususnya peningkatan volume produksi dan penjualan silika melalui anak usahanya, PT Hangtian Nur Cahaya.

Meskipun pendapatan meningkat, perseroan menghadapi tantangan margin di tengah fluktuasi harga komoditas dan biaya operasional yang dinamis. Akibatnya, laba kotor tercatat menyusut 3,46% menjadi Rp291,25 miliar, walau kinerja operasional tetap solid dengan laba usaha mencapai Rp149,31 miliar. Namun, laba bersih tahun berjalan menunjukkan tren positif, melonjak 6,40% dari Rp100,11 miliar menjadi Rp106,52 miliar pada periode yang sama.

Kinerja finansial tahun 2025 ini dinilai Rivka Rotua Natasya, Corporate Secretary IFSH, sebagai bukti ketahanan perusahaan dalam menavigasi kompleksitas fundamental bisnis pertambangan. Ia menyoroti bahwa sektor nikel nasional terus menunjukkan perkembangan yang dinamis meskipun ada berbagai dinamika industri yang dihadapi oleh emiten.

Menatap tahun 2026, manajemen IFSH menaruh optimisme tinggi terhadap prospek permintaan nikel global yang diperkirakan akan terus menguat. Keyakinan ini didorong oleh ekspansi masif di sektor penyimpanan energi serta percepatan adopsi kendaraan listrik (EV) di berbagai belahan dunia. Selain itu, meningkatnya ketidakpastian geopolitik turut memperkuat dorongan menuju kemandirian energi bersih.

"Memasuki 2026, perseroan tetap optimis terhadap pertumbuhan permintaan nikel global yang kuat, didorong oleh ekspansi sektor penyimpanan energi dan kendaraan listrik," ujar Rivka Rotua Natasya dalam keterangan resminya pada Kamis (5/3/2026). Ia menambahkan bahwa isu geopolitik turut memperkuat urgensi transisi ke energi terbarukan.

IFSH juga aktif memantau indikator pasar domestik, terutama pergerakan Harga Patokan Mineral (HPM) Indonesia yang belakangan menunjukkan tren kenaikan yang menjanjikan. Tren positif HPM ini berpotensi menjadi katalisator yang memperkuat sentimen positif bagi seluruh ekosistem nikel di tingkat nasional.

Kondisi neraca keuangan IFSH juga menunjukkan perbaikan substansial, di mana total aset bertambah menjadi Rp1,06 triliun, naik 5,24% dari akhir 2024. Lebih lanjut, perusahaan berhasil melakukan deleveraging dengan menekan total liabilitas sebesar 13,12% menjadi Rp147,62 miliar, yang berdampak pada peningkatan total ekuitas menjadi Rp913,16 miliar.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Market.bisnis. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.