PANDEGLANG – Menjelang masuknya bulan suci Ramadan, masyarakat Indonesia kembali menghidupkan tradisi Munggahan.

Tradisi yang identik dengan momen berkumpul dan makan bersama ini ternyata tidak hanya memperkuat tali silaturahmi, tetapi juga memberikan dampak instan pada pertumbuhan ekonomi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Pantauan di berbagai pasar tradisional dan pusat kuliner menunjukkan peningkatan aktivitas transaksi yang signifikan sejak sepekan terakhir. Fenomena ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu menjadi motor penggerak roda ekonomi di tingkat akar rumput.

Bagi para pedagang bahan pokok, Munggahan adalah periode "panen" pertama sebelum puncak Idulfitri. Permintaan komoditas seperti daging sapi, ayam, dan bumbu dapur dilaporkan meningkat dibandingkan hari biasa.

Tidak hanya bahan mentah, sektor kuliner siap saji juga kecipratan berkah. Paket nasi liwet dan hantaran makanan menjadi produk yang paling banyak dicari.

Banyak kantor dan komunitas sosial memesan paket katering untuk menggelar acara makan bersama sebelum menutup aktivitas siang hari selama Ramadan.

Beberapa UMKM kuliner bahkan menerapkan sistem pre-order (PO) untuk mengantisipasi lonjakan permintaan agar kualitas rasa dan layanan tetap terjaga.

Keuntungan Strategis UMKM di Musim Munggahan

Berdasarkan analisis pasar, terdapat tiga poin utama mengapa Munggahan sangat menguntungkan bagi UMKM: