JAKARTA, BisnisMarket.com – Raksasa mobil listrik, Tesla, kembali membuat gebrakan dengan memangkas harga jual secara drastis di beberapa pasar kunci, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok.
Langkah ini memicu spekulasi bahwa perusahaan sedang berjuang di tengah perlambatan permintaan global dan persaingan yang kian memanas, terutama dari produsen Tiongkok.
Penurunan harga yang signifikan ini mencakup model-model populer seperti Model Y, Model X, dan Model S. Di Tiongkok, misalnya, harga Model 3 Long Range dipangkas hingga 4,5%. Sementara itu, di Jerman, beberapa varian Model Y turun hingga 6%.
Ini bukanlah kali pertama Tesla menerapkan strategi "banting harga". Sepanjang tahun 2023, Elon Musk dan timnya telah beberapa kali melakukan penyesuaian harga serupa.
Awalnya, langkah ini dianggap sebagai upaya untuk memacu adopsi kendaraan listrik (EV) dan menekan inflasi.
Namun, serangkaian pemotongan harga yang terus-menerus kini mulai dibaca sebagai sinyal kuat bahwa permintaan tidak sekuat yang diharapkan, sementara kapasitas produksi Tesla terus meningkat.
Salah satu pemicu utama strategi agresif ini adalah munculnya pemain-pemain baru, terutama dari Tiongkok. Produsen seperti BYD, Nio, dan Xpeng tidak hanya menawarkan harga yang lebih kompetitif, tetapi juga inovasi fitur dan desain yang menarik perhatian konsumen. BYD bahkan sempat menggeser Tesla sebagai produsen EV terbesar di dunia dalam hal volume penjualan pada kuartal terakhir 2023.
Data penjualan kuartal pertama 2024 menunjukkan pengiriman Tesla meleset dari ekspektasi analis, menandai penurunan year-on-year yang cukup mencolok. Ini adalah pertama kalinya Tesla mencatat penurunan pengiriman kuartalan sejak pandemi COVID-19.
Meskipun pemotongan harga dapat meningkatkan volume penjualan dalam jangka pendek, strategi ini berpotensi mengikis margin keuntungan Tesla yang selama ini menjadi salah satu daya tariknya. Investor kini mengamati dengan cermat bagaimana Tesla akan menyeimbangkan antara volume penjualan dan profitabilitas.