PANDEGLANG, BisnisMarket.com - Dalam sebuah hubungan asmara, wajar jika sesekali terjadi konflik atau kesalahpahaman. Namun, jika Anda terus-menerus merasa lelah secara mental, selalu merasa bersalah, dan merasa ruang gerak Anda perlahan dibatasi, bisa jadi Anda sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki gangguan kepribadian narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD).

NPD adalah gangguan mental di mana seseorang memiliki rasa mementingkan diri sendiri yang sangat tinggi, kebutuhan mendalam untuk dikagumi, namun memiliki empati yang sangat rendah terhadap orang lain. Di awal hubungan, mereka sering kali terlihat sangat mempesona. Namun, seiring berjalannya waktu, sifat aslinya mulai mengikis rasa percaya diri pasangannya.

Agar tidak terjebak dalam hubungan yang beracun (toxic relationship), berikut adalah 7 ciri-ciri utama pasangan dengan NPD yang perlu Anda waspadai:

1. Fase Love Bombing yang Intens di Awal Hubungan

Pada awal PDK atau pacaran, pasangan NPD biasanya akan "membombardir" Anda dengan perhatian yang luar biasa, pujian setinggi langit, hingga hadiah-hadiah mewah. Mereka akan membuat Anda merasa seperti orang paling beruntung di dunia dalam waktu singkat. Fase ini disebut love bombing, yang tujuannya adalah membuat Anda ketergantungan secara emosional sebelum mereka menunjukkan sifat aslinya.

2. Kebutuhan Konstan untuk Dipuji dan Dikagumi

Orang dengan NPD memiliki harga diri yang sebenarnya sangat rapuh (fragile ego). Untuk menutupi rasa tidak aman tersebut, mereka membutuhkan validasi, pujian, dan perhatian tanpa henti dari pasangan mereka. Jika Anda berhenti memuji atau mengalihkan perhatian Anda pada hal lain (seperti pekerjaan atau teman), mereka bisa menjadi sangat marah atau merasa dikhianati.

3. Sangat Minim Empati

Ini adalah salah satu ciri paling mendasar dari NPD. Mereka kesulitan, atau bahkan tidak mau, memahami perasaan dan kebutuhan pasangannya. Saat Anda menceritakan masalah Anda atau mengungkapkan bahwa Anda terluka oleh tindakan mereka, mereka cenderung mengabaikannya, menganggap Anda terlalu sensitif, atau justru memutarbalikkan cerita agar fokusnya kembali ke diri mereka sendiri.