JAKARTA, BisnisMarket.com— Konflik di Timur Tengah yang berlarut-larut memiliki dampak besar bagi sektor pelayaran Indonesia.
Pasokan impor BBM yang terganggu bisa memicu krisis logistik, mengancam kelancaran distribusi barang, dan memicu lonjakan biaya pelayaran.
Menurut Dr. Datep Purwa Saputra, Ketua Umum Pramarin, hal ini menjadi masalah serius yang perlu segera ditangani.
"Jika pasokan BBM impor terhenti akibat konflik yang berkepanjangan, sektor pelayaran kita akan mengalami dampak yang sangat besar. BBM adalah darah penggerak sektor maritim. Kapal-kapal kita sangat bergantung pada solar dan Marine Fuel Oil (MFO)," jelasnya dalam wawancara eksklusif.
1. Skema Prioritas Logistik Nasional
Dr. Purwa mengungkapkan, dalam kondisi darurat pasokan BBM hanya bertahan untuk 21-25 hari, maka pemerintah akan menerapkan sistem prioritas untuk pelayaran nasional.
Kapal-kapal pengangkut sembako, kapal militer, dan kapal tanker yang mengangkut BBM domestik akan mendapatkan prioritas utama.
"Selain itu, kapal penumpang seperti PELNI juga akan menjadi prioritas untuk menjaga konektivitas antar-pulau. Sementara itu, kapal pesiar, kapal kargo non-esensial, dan kapal-kapal kecil akan dibatasi atau ditangguhkan," tambahnya.
2. Dampak pada Biaya Logistik