JAKARTA , BISNISMARKET.COM – Tuberkulosis (TBC) kembali menjadi perhatian publik di Indonesia menyusul kabar dugaan penyakit tersebut menjadi penyebab meninggalnya Novia Rahmadhani Sihotang, peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), pada Juni 2026.
TBC merupakan penyakit infeksi menular yang masih menjadi tantangan kesehatan signifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meskipun dapat disembuhkan, keterlambatan diagnosis atau penghentian pengobatan dini dapat memicu komplikasi serius hingga kematian.
Apa Itu Tuberkulosis?
Tuberkulosis, atau TB, adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis. Organ yang paling sering diserang adalah paru-paru. Namun, bakteri ini juga berpotensi menyebar ke organ lain seperti otak, tulang, ginjal, kelenjar getah bening, hingga tulang belakang.
Penularan TBC terjadi melalui udara. Ketika penderita TBC aktif batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi, percikan (droplet) yang mengandung bakteri akan menyebar dan dapat terhirup oleh orang lain, menyebabkan infeksi.
Penting diketahui, tidak semua orang yang terinfeksi bakteri langsung jatuh sakit. Sebagian individu hanya mengalami TBC laten, di mana bakteri berada dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala dan tidak menularkan penyakit.
Jenis-Jenis Tuberkulosis
Secara umum, infeksi TBC dibagi menjadi dua kondisi utama:
1. TBC Laten: Bakteri berada di dalam tubuh dalam keadaan tidak aktif. Penderita tidak menunjukkan gejala dan tidak menularkan penyakit. Namun, infeksi ini dapat berkembang menjadi TBC aktif jika sistem kekebalan tubuh seseorang menurun.
2. TBC Aktif: Pada kondisi ini, bakteri berkembang biak dan mulai menimbulkan gejala. Penderita TBC aktif berpotensi menularkan penyakit melalui udara dan harus segera mendapatkan pengobatan.