Bisnis Market.com- Kenaikan harga BBM RON 92 Pertamax menjadi Rp16.250 per liter pada pertengahan Juni 2026 menjadi salah satu dinamika ekonomi yang paling banyak diperbincangkan publik. 

Lonjakan sekitar 32 persen dari posisi sebelumnya di Rp12.300 per liter ini langsung memicu perhatian berbagai kalangan, terutama karena terjadi setelah periode penahanan harga sejak April 2026.

Center of Reform on Economics (CORE) menilai pergerakan harga tersebut sebenarnya tidak muncul tiba-tiba dari ruang kosong. Faktor eksternal berupa lonjakan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia sejak akhir Februari 2026 disebut menjadi pemicu utama tekanan biaya energi global.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics, Mohammad Faisal, menegaskan bahwa secara fundamental kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax masih mengikuti mekanisme pasar internasional yang sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik dan pasokan energi.

“Memang kenaikannya sudah bisa diperkirakan sejak harga minyak dunia naik. Tapi karena sempat ditahan, begitu disesuaikan dampaknya jadi terasa lebih besar sekaligus,” ujar Mohammad Faisal saat dihubungi, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, keputusan penyesuaian harga yang dilakukan secara bertahap sebenarnya dapat mengurangi efek kejutan di masyarakat. 

Ia menilai pola penahanan harga dalam beberapa bulan terakhir berpotensi menciptakan “efek akumulasi” yang akhirnya muncul sekaligus dalam satu penyesuaian besar.

“Seandainya penyesuaian dilakukan bertahap sejak awal, mungkin shock di masyarakat tidak sebesar ini. Karena sekarang efeknya menumpuk,” tambahnya.

Meski demikian, CORE juga menilai terdapat sisi positif dari penyesuaian harga tersebut terhadap stabilitas fiskal dan operasional badan usaha energi.