BISNISMARKET.COM - Kondisi pasar modal di Indonesia saat ini menunjukkan adanya perlambatan signifikan dalam aktivitas transaksi harian. Penurunan volume perdagangan ini menjadi perhatian utama bagi para pelaku pasar.

Selain itu, gelombang penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) juga terlihat mengalami penurunan drastis. Minimnya perusahaan yang berani melantai di bursa turut memperlambat dinamika pasar secara keseluruhan.

Namun, situasi yang cenderung lesu ini dilihat oleh analis sebagai sebuah peluang strategis yang menarik. Pasar yang sedang terkoreksi seringkali menawarkan valuasi yang lebih menarik dibandingkan saat pasar sedang euforia.

Koreksi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi belakangan ini dinilai oleh Infovesta telah memberikan dampak langsung pada kinerja perusahaan sekuritas. Penurunan kinerja ini merupakan konsekuensi logis dari berkurangnya aktivitas perdagangan investor.

Menurut pandangan analis, perlambatan pasar dan sepinya aktivitas IPO justru membuka peluang 'bottom fishing' bagi investor. Istilah ini merujuk pada strategi membeli aset ketika harganya berada di titik terendah atau mendekati dasar.

Peluang ini sangat relevan bagi investor yang memiliki orientasi jangka menengah hingga jangka panjang. Mereka dapat memanfaatkan harga saham yang tertekan untuk mengakumulasi portofolio berkualitas.

"Meskipun pasar melambat dan aktivitas IPO sepi, kondisi ini membuka peluang 'bottom fishing' bagi investor jangka menengah hingga panjang," ujar seorang analis terkait kondisi pasar saat ini.

Fokus investor disarankan beralih dari spekulasi jangka pendek ke fundamental perusahaan yang kuat. Strategi ini terbukti lebih efektif saat volatilitas pasar sedang tinggi.

Investor perlu lebih cermat dalam memilih saham yang harganya terdiskon namun tetap memiliki prospek pertumbuhan fundamental yang solid ke depan.