BISNISMARKET.COM - PT Indo Kordsa Tbk (BRAM) berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang signifikan pada kuartal pertama tahun 2026. Laba bersih perusahaan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak tajam hingga 126,35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka laba bersih tersebut mencapai US$5,71 juta pada periode Januari hingga Maret 2026, atau setara dengan US$0,0127 per saham. Angka ini jauh melampaui perolehan laba bersih pada kuartal I 2025 yang tercatat sebesar US$2,52 juta (US$0,0056 per saham).
Perkembangan positif ini terungkap dalam laporan keuangan perusahaan yang diumumkan di Jakarta pada hari Senin, 27 April 2026. Lonjakan laba ini ditopang oleh beberapa faktor pendapatan non-operasional yang signifikan selama kuartal tersebut.
Penyebab utama kenaikan laba bersih adalah adanya pendapatan yang berasal dari penanganan bencana banjir senilai US$5 juta. Selain itu, perusahaan juga mencatat pendapatan keuangan sebesar US$1 juta pada kuartal I 2026.
Dilansir dari STOCKWATCH.ID, "Lonjakan laba Perseroan ditopang pendapatan akibat bencana banjir sebesar US$5 juta dan pendapatan keuangan US$1 juta di kuartal I 2026," sebagaimana tercantum dalam laporan keuangan tersebut.
Kinerja laba juga didukung oleh efisiensi dalam pengelolaan biaya operasional perusahaan. Beban umum dan administrasi BRAM berhasil ditekan menjadi hanya US$1,78 juta, menurun dari realisasi US$1,91 juta pada kuartal I 2025.
Lebih lanjut, beban kerugian kurs perusahaan juga mengalami perbaikan signifikan, turun drastis menjadi hanya US$68,39 ribu. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kerugian kurs pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$313,84 ribu.
Meskipun laba meningkat pesat, pendapatan bersih PT Indo Kordsa Tbk justru menunjukkan tren penurunan. Pendapatan bersih pada kuartal I 2026 tercatat sebesar US$37,14 juta, mengalami kontraksi 11,86% dari US$42,14 juta pada kuartal I 2025.
Kontributor terbesar penurunan pendapatan ini berasal dari penjualan barang di pasar domestik yang tergerus 23,92%, menjadi US$18,43 juta dari sebelumnya US$24,23 juta. Sementara itu, pendapatan dari sektor ekspor relatif stabil di angka US$18,75 juta.