BISNISMARKET.COM - PT Bank Permata Tbk (BNLI) berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih yang cukup impresif pada kuartal pertama tahun 2026. Kinerja positif ini menunjukkan adanya peningkatan profitabilitas secara keseluruhan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data keuangan yang dirilis, laba bersih Bank Permata mencapai Rp920,1 miliar pada kuartal I-2026. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 16,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari laba periode sebelumnya yang tercatat Rp788,9 miliar.

Meskipun laba tumbuh dua digit, indikator utama bisnis inti bank menunjukkan adanya perlambatan signifikan. Pertumbuhan kredit yang merupakan mesin utama pendapatan intermediasi belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan laba bersih tersebut.

Penyaluran kredit Bank Permata hanya tumbuh tipis sekitar 2,7% yoy, mencapai Rp149,5 triliun dari posisi Rp145,6 triliun di tahun sebelumnya. Lebih lanjut, secara kuartalan, terjadi kontraksi penyaluran kredit dibandingkan akhir tahun 2025, mengisyaratkan melemahnya momentum ekspansi.

Sejalan dengan stagnasi kredit, pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) Bank Permata justru mengalami penurunan. NII terkoreksi sekitar 4,3% yoy menjadi Rp2,42 triliun, turun dari sebelumnya sebesar Rp2,53 triliun.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan kredit yang terbatas tidak cukup kuat untuk menopang pendapatan utama bank tersebut. Selain itu, margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) juga tertekan, turun 26 basis poin secara tahunan menjadi 3,9%.

Dari sisi pendanaan, terdapat perubahan signifikan dalam komposisi dana pihak ketiga (DPK) yang totalnya turun 1,6% yoy menjadi Rp184,35 triliun. Peningkatan rasio dana murah (CASA) menjadi 65,6% dari 58,6% yoy lebih dipengaruhi oleh pergeseran struktur dana yang kurang stabil.

Kenaikan CASA tersebut didorong oleh lonjakan dana giro sebesar 13,3% yoy menjadi Rp75,05 triliun, sementara dana tabungan justru mengalami penurunan 7,2% yoy menjadi Rp45,83 triliun. Penurunan signifikan deposito juga tercatat, yakni minus 18,2% yoy menjadi Rp63,47 triliun.

Perubahan komposisi ini menimbulkan kekhawatiran karena dana giro cenderung lebih volatil dibandingkan dana tabungan yang lebih stabil. Selain itu, terjadi lonjakan simpanan dari bank lain yang melesat 117% yoy menjadi Rp7,05 triliun dari hanya Rp3,24 triliun.