JAKARTA, BisnisMarket.com – Satu keputusan mengejutkan mengguncang panggung ekonomi nasional pada Senin ini. Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia memicu gelombang ketidakpastian yang langsung terasa di lantai bursa dan pasar keuangan. Bisakah penerusnya menjaga independensi kebijakan moneter, atau justru arah pengendalian ekonomi akan berubah haluan?

Ujian Berat Independensi Bank Sentral

Pergantian kepemimpinan ini menjadi ujian nyata bagi kemandirian Bank Indonesia pasca berlakunya Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Para analis sepakat bahwa hal terpenting bukan sekadar siapa yang akan duduk di kursi panas itu, melainkan sejauh mana ia berani mengambil keputusan yang tepat demi stabilitas ekonomi meski bertentangan dengan kebutuhan lain.

“Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah gubernur BI berikutnya cukup independen untuk mengatakan 'tidak' kepada Presiden ketika kepentingan stabilitas moneter bertentangan dengan agenda pertumbuhan atau kebutuhan fiskal pemerintah,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata, dilansir dari Bloomberg Technoz (27/7).

Jika independensi ini terganggu, pasar siap memberikan reaksi yang tidak menyenangkan. Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil surat berharga negara, meningkatnya risiko investasi, hingga tekanan pada indeks saham menjadi skenario yang dikhawatirkan terjadi.

Reaksi Pasar yang Langsung Terlihat

Kekhawatiran itu sudah mulai terwujud sejak awal perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan langsung merosot 33,61 poin atau setara 0,54 persen ke level 6.162. Sebanyak 354 saham melemah, sementara hanya 157 yang mampu menguat, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,22 triliun.

Branch Manager Panin Sekuritas Elandry Pratama menjelaskan bahwa sentimen menghindari risiko mulai mendominasi. “Dalam jangka pendek, IHSG cenderung tertekan akibat meningkatnya sentimen menghindari risiko, rupiah berpotensi melemah karena investor menunggu kepastian kebijakan, sementara pasar obligasi bisa mengalami kenaikan imbal hasil apabila terjadi aksi jual dari investor asing,” katanya.

Saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI juga diprediksi akan ikut terbebani sentimen ini. Di sisi lain, imbal hasil surat berharga negara berjangka waktu 10 tahun diperkirakan akan naik, yang kemudian mendorong peningkatan suku bunga acuan bebas risiko.