JAKARTA, BisnisMarket.com
– Bayangkan saja, minyak mentah yang datang dari ujung timur Rusia ternyata
punya karakteristik pas sekali dengan apa yang dibutuhkan Indonesia. Tak butuh
biaya miliaran untuk merombak pabrik, tak butuh teknologi canggih baru, namun
hasilnya bisa melimpahkan pasokan solar hingga avtur yang selama ini masih
sering kita impor. Apa keistimewaan minyak jenis ESPO ini, dan bagaimana
perannya mengubah peta energi nasional?
Keistimewaan ESPO yang Jarang Diketahui
Minyak mentah Eastern Siberia-Pacific Ocean atau yang
dikenal sebagai ESPO asal Rusia ternyata memiliki keunggulan istimewa
dibandingkan jenis minyak mentah lainnya. Dilansir dari Bloomberg Technoz
(27/7), Ekonom Energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menjelaskan bahwa
minyak ini menghasilkan imbal hasil distilasi pada rentang titik didih 150
derajat Celcius hingga 350 derajat Celcius sebesar lebih dari 52 persen volume.
Rentang suhu tersebut merupakan fraksi distilat
menengah yang menjadi bahan baku utama pembuatan kerosin, avtur, hingga solar.
“Hasil distilasi yang tinggi untuk kerosin, Jet A-1 [avtur], dan solar atau
diesel,” tegas Yayan. Artinya, dari setiap barel minyak ESPO yang diolah, porsi
yang menjadi bahan bakar yang paling dibutuhkan masyarakat Indonesia jauh lebih
besar dibandingkan jenis minyak lainnya.
Sangat Sesuai Kebutuhan Domestik
Kondisi ini sangat beruntung karena pola konsumsi
bahan bakar di Indonesia memang masih didominasi oleh solar dan bensin RON 90.
Agar hasilnya maksimal, pihak pengelola kilang hanya perlu mengatur titik
potong fraksi pada kolom distilasi, rasio aliran balik, serta mengarahkan
fraksi distilat menengah ke unit pengolah hidrolisis.
Yang paling menguntungkan, seluruh penyesuaian ini
tidak memerlukan penggantian alat atau investasi baru. “Kilang PT Pertamina
(Persero) hanya perlu mengatur proses penghilangan belerang, mengoptimalkan
alat pemisah kotoran, serta penyesuaian titik potong fraksi agar hasil
pengolahan sesuai dengan kebutuhan pasar domestik,” jelas Yayan.
Dari sudut pandang ekonomi bisnis, keuntungan ini
sangat besar. Menurut data Kementerian Perdagangan, Indonesia menghabiskan
biaya impor bahan bakar minyak rata-rata lebih dari 10 miliar dolar AS per
tahun. Dengan kurs saat ini sekitar Rp16.400 per dolar AS, nilainya mencapai
lebih dari Rp164 triliun per tahun. Jika penggunaan ESPO bisa meningkatkan
hasil olahan solar dan avtur secara signifikan, maka beban devisa negara akan
berkurang drastis.
Pengiriman Pertama dan Rencana Masa Depan