BISNISMARKET.COM - Iran telah membatalkan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz setelah Amerika Serikat menegaskan tidak akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Hal ini menimbulkan ketegangan di kawasan tersebut, terutama setelah insiden penembakan kapal tanker oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Pembatasan ketat terhadap jalur pelayaran vital tersebut telah diberlakukan, dan Iran menegaskan bahwa pembatasan akan tetap diberlakukan apabila Amerika Serikat tidak menjamin kebebasan navigasi penuh bagi kapal-kapal yang berlayar dari dan menuju Iran. "Kami berupaya dengan itikad baik untuk memfasilitasi jalur pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz," kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh.
"AS tidak dapat memaksakan kehendak untuk mengepung Iran," ujar Saeed Khatibzadeh, menegaskan posisi Iran dalam konflik ini. Ia menambahkan bahwa Iran akan terus berupaya untuk mencapai kesepakatan damai yang adil dan memuaskan semua pihak.
Dalam sebuah unggahan di X, komando angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa selama pergerakan kapal dari dan menuju Iran masih terancam, status Selat Hormuz akan tetap seperti sebelumnya. "Setiap pelanggaran komitmen oleh Amerika Serikat akan mendapat tanggapan yang sesuai," tulisnya.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris mengatakan telah menerima laporan dari sebuah kapal tanker yang didekati dan kemudian ditembak oleh "dua kapal perang IRGC" sekitar 20 mil laut di timur laut Oman. Insiden ini menambah ketegangan di kawasan tersebut dan menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan jalur pelayaran.
"Kami berharap dapat mencapai kesepakatan dalam beberapa hari mendatang," kata Badr Abdelatty, Menteri Luar Negeri Mesir, menambahkan: "Bukan hanya kami di kawasan ini, tetapi seluruh dunia menderita akibat berlanjutnya perang ini" ujar Abdelatty.
Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator utama Iran dan ketua parlemen, mengatakan telah ada kemajuan dalam pembicaraan dengan AS tetapi masih ada "jarak yang besar". Ia menegaskan bahwa Iran akan terus berupaya untuk mencapai kesepakatan damai yang adil dan memuaskan semua pihak.
Sekitar 20% minyak dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz, yang telah menjadi titik fokus perang AS-Israel terhadap Iran. Penutupan selat ini telah mendorong kenaikan harga energi di seluruh dunia, dan ketegangan di kawasan tersebut terus meningkat.