JAKARTA, BisnisMarket.com - Di balik keterbatasan fisik, tersembunyi kekuatan mimpi yang tak terbatas. Itulah yang dibuktikan oleh Syamsun Ramli, seorang awardee LPDP yang kini tengah menempuh pendidikan S3 di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kisah inspiratif pria ini adalah sebuah oase di tengah gurun pasir keputusasaan, sebuah bukti bahwa mimpi dapat diraih setinggi langit, meski kaki tak lagi menapak sempurna.
Terjatuh, Bukan Berarti Terhenti
Siapa sangka, pria yang kini gigih menuntut ilmu di bangku kuliah ini pernah mengalami keterpurukan yang mendalam. Pada tahun 1998, saat masih menjadi mahasiswa Teknik Sipil di Universitas Brawijaya (UB), sebuah kecelakaan tragis mengubah jalan hidupnya.
"Ramli terjatuh dari ketinggian sekitar 17 meter saat latihan panjat tebing untuk persiapan ekspedisi. Akibatnya empat ruas tulang belakang Ramli di bagian torakal (T5–T8) terganggu. Ia pun mengalami paraplegia atau kelumpuhan pada tubuh bagian bawah," demikian dikutip dari berita laman resmi ITB diakses pada (22/2).
Timnas Putri Indonesia Bersiap Hadapi Singapura di Bandung, Ujian Krusial untuk Peringkat FIFA
Namun, semangatnya tak ikut runtuh bersama tubuhnya. Meski awalnya merasa terpukul dan menolak kursi roda, Ramli akhirnya menyadari bahwa hidup harus terus berjalan. "Setelah dipikirkan lama, ini adalah anugerah Tuhan. Saya diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki diri,” ujarnya, seperti dikutip dari situs ITB.
Sentuhan Dokter, Pembuka Jalan Pendidikan
Keterbatasan biaya sempat membuat Ramli nyaris putus asa dan mengubur mimpinya untuk menyelesaikan kuliah. Namun, bak malaikat penolong, dr. Tjuk Risantoso, Sp.OT yang menanganinya, hadir memberikan harapan.
Sang dokter tak hanya membantu membiayai kuliah, tetapi juga memberikan motivasi agar Ramli menyelesaikan studinya tepat waktu. "Beliau bukan hanya menyelamatkan fisik saya, tapi juga masa depan saya,” kenang Ramli.
8 Tahun Menanti Pekerjaan
Lulus kuliah bukan berarti pintu kesuksesan langsung terbuka lebar. Ramli harus menghadapi kenyataan pahit, yaitu sulitnya mendapatkan pekerjaan karena kondisinya. Ia selalu jujur dalam setiap lamaran yang diajukannya, namun tetap saja, penolakan demi penolakan harus ia telan.