BISNISMARKET.COM - PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) melaporkan kinerja keuangan yang mengalami tekanan signifikan pada awal tahun 2026. Perusahaan mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp17,32 miliar pada kuartal pertama tahun tersebut.

Angka laba ini menunjukkan penurunan yang cukup tajam, yakni terkoreksi sebesar 64,61% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Pada kuartal I 2025, laba bersih SMBR tercatat mencapai Rp48,96 miliar, atau setara dengan Rp5 per saham.

Penurunan laba ini secara langsung berkaitan dengan performa pendapatan bersih perusahaan selama periode Januari hingga Maret 2026. Pendapatan bersih SMBR mengalami kemerosotan signifikan sebesar 16,75% dari periode sebelumnya.

Berdasarkan data keuangan yang dipublikasikan pada Rabu, 29 April 2026, pendapatan bersih SMBR di kuartal I 2026 hanya mencapai Rp439,39 miliar. Angka ini jauh di bawah perolehan kuartal I 2025 yang sempat menyentuh angka Rp527,81 miliar.

Meskipun demikian, manajemen perusahaan menunjukkan upaya dalam pengendalian biaya operasional. Manajemen Perseroan memang mampu menekan turun beban pokok pendapatan sebesar 9,8% pada periode tersebut.

Beban pokok pendapatan berhasil diturunkan dari Rp351,82 miliar pada kuartal I 2025 menjadi Rp317,30 miliar pada kuartal I 2026. Upaya efisiensi ini tetap tidak mampu menahan penurunan laba kotor perusahaan secara keseluruhan.

Akibat dari penurunan pendapatan yang lebih besar daripada penurunan beban pokok, laba kotor Perseroan ikut menyusut 30,62% menjadi Rp122,09 miliar pada kuartal I 2026, dari realisasi Rp175,99 miliar di kuartal I 2025.

Setelah memperhitungkan berbagai pos pengeluaran lain seperti beban penjualan, beban umum dan administrasi, serta beban keuangan, laba sebelum pajak SMBR pun terpangkas. Emiten produsen semen ini mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp24,22 miliar di kuartal I 2026.

Angka laba sebelum pajak tersebut anjlok 61,84% dibandingkan dengan laba sebelum pajak pada kuartal I 2025 yang tercatat sebesar Rp63,47 miliar. Hal ini menunjukkan tekanan profitabilitas yang cukup dalam pada operasional perusahaan.