BISNISMARKET.COM - PT Master Print Tbk (PTMR) berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang impresif pada kuartal pertama tahun 2026. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp4,25 miliar per akhir Maret 2026.
Angka laba bersih tersebut menunjukkan peningkatan signifikan yaitu melonjak hingga 154,58% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni kuartal I 2025 yang tercatat sebesar Rp1,67 miliar.
Dilansir dari STOCKWATCH.ID, berdasarkan laporan keuangan interim per 31 Maret 2026, total pendapatan PTMR justru mengalami penurunan. Realisasi pendapatan tercatat sebesar Rp29,42 miliar, terkoreksi 19,40% dari pendapatan kuartal I 2025 yang mencapai Rp36,50 miliar.
Kontribusi pendapatan PTMR selama tiga bulan pertama tahun 2026 masih didominasi oleh penjualan produk consumables yang mencapai Rp25,19 miliar. Selain itu, pendapatan lainnya berasal dari penjualan mesin senilai Rp3,09 miliar, penjualan suku cadang senilai Rp345,46 juta, dan pos lain-lain sebesar Rp784,41 juta.
Fokus utama pendapatan perseroan disumbang oleh tiga pelanggan utama yang masing-masing memberikan kontribusi lebih dari 10% dari total pendapatan. Ketiga pelanggan strategis tersebut adalah PT Petra Sejahtera Abadi, PT Global Putra Kusuma, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk.
Kenaikan laba bersih yang substansial ini terjadi meskipun terjadi penurunan pada sisi pendapatan usaha. Fenomena ini ditopang oleh lonjakan pendapatan keuangan perusahaan yang signifikan.
"MSPT membukukan pendapatan keuangan sebesar Rp2,95 miliar, naik signifikan dari Rp569,36 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya," sebut sumber berita tersebut. Kenaikan ini menjadi penentu utama perbaikan profitabilitas.
Selain itu, perusahaan menunjukkan efisiensi yang baik pada struktur biaya operasional. Beban pokok pendapatan tercatat turun 21,63% menjadi Rp21,27 miliar dari posisi sebelumnya yakni Rp27,14 miliar pada kuartal I 2025.
Perseroan juga berhasil mencatatkan efisiensi pada pos beban umum dan administrasi, yang berhasil ditekan menjadi Rp5,84 miliar dari sebelumnya Rp6,76 miliar. Sebaliknya, beban penjualan terlihat meningkat menjadi Rp547,11 juta dari realisasi Rp413,40 juta.