BISNISMARKET.COM - PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), salah satu pemain utama di sektor properti dan real estat nasional, melaporkan kinerja keuangan yang mengalami kontraksi pada kuartal pertama tahun 2026. Penurunan ini terlihat jelas pada laba bersih dan total pendapatan perseroan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut data keuangan yang dipublikasikan pada Selasa, 28 April 2026, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk LPCK tercatat sebesar Rp79,13 miliar pada kuartal I 2026. Angka ini setara dengan laba per saham sebesar Rp15, menunjukkan adanya penurunan signifikan sebesar 44,58% dari pencapaian kuartal I 2025 yang mencapai Rp142,97 miliar (Rp53 per saham).
Dilansir dari STOCKWATCH.ID, pendapatan bersih perusahaan properti tersebut juga mengalami koreksi tajam. Pada kuartal pertama 2026, pendapatan bersih LPCK hanya mencapai Rp744,26 miliar, merosot 30,45% jika dibandingkan dengan capaian Rp1,07 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
Penurunan kinerja pendapatan ini terutama disebabkan oleh lesunya penjualan di segmen residensial. Penjualan rumah hunian dan apartemen mengalami kontraksi terdalam, yakni anjlok hingga 44,86%, menjadi hanya Rp420,85 miliar di kuartal I 2026, berbanding terbalik dengan Rp763,3 miliar pada kuartal I 2025.
Selain segmen hunian, penjualan lahan komersial dan rumah toko (ruko) turut menyumbang pelemahan pendapatan. Penjualan di sektor ini tercatat turun 19,98%, dari semula Rp130,98 miliar menjadi Rp104,80 miliar pada kuartal pertama tahun 2026.
Sejalan dengan penurunan pendapatan, beban pokok pendapatan (BPP) LPCK juga berhasil ditekan oleh manajemen. BPP pada kuartal I 2026 turun sebesar 34,54% menjadi Rp531,64 miliar, dari posisi Rp812,22 miliar pada kuartal I 2025.
Meskipun BPP berhasil dikurangi, laba kotor perusahaan tetap tertekan secara signifikan. Laba kotor LPCK tercatat anjlok 17,58% menjadi Rp212,62 miliar pada kuartal I 2026, dibandingkan dengan perolehan laba kotor sebesar Rp258,02 miliar pada kuartal I 2025.
Setelah memperhitungkan seluruh beban usaha, laba usaha emiten pengembang ini semakin menyusut, yakni sebesar Rp88,23 miliar pada kuartal I 2026. Angka ini menandakan penurunan sebesar 40,05% jika dibandingkan dengan laba usaha periode yang sama di tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar Rp147,21 miliar.
Dari sisi neraca keuangan hingga akhir Maret 2026, total aset yang dimiliki Lippo Cikarang menunjukkan sedikit perlambatan, yaitu sebesar Rp11,06 triliun. Nilai tersebut merupakan penurunan tipis 0,97% dari total aset per Desember 2025 yang bernilai Rp11,17 triliun.