BISNISMARKET.COM - PT Astra International Tbk (ASII) menghadapi tantangan di awal tahun 2026, tercermin dari penurunan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Kinerja ini tercatat sebesar Rp5,85 triliun pada kuartal pertama tahun 2026, sebuah penurunan yang cukup signifikan.

Penurunan laba bersih ini setara dengan Rp146 per saham, yang merupakan kontraksi sebesar 15,6% jika dibandingkan dengan capaian periode yang sama di tahun 2025. Pada kuartal I 2025, ASII berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp6,93 triliun atau Rp171 per saham.

Informasi ini terungkap dari publikasi laporan keuangan perusahaan per Maret 2026 pada hari Rabu, 29 April 2026. Selain laba, indikator pendapatan juga menunjukkan perlambatan kinerja perusahaan selama periode tiga bulan pertama tahun 2026.

Pendapatan bersih ASII pada kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp78,66 triliun, mengalami penurunan sebesar 5,62%. Angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi pendapatan bersih pada kuartal I 2025 yang mencapai Rp83,36 triliun.

Kontribusi terbesar terhadap pendapatan ASII selama periode Januari hingga Maret 2026 berasal dari penjualan barang, yang menyumbang Rp53,74 triliun atau sekitar 68,31% dari total pendapatan perusahaan. Segmen jasa dan sewa menyumbang Rp16,43 triliun, sementara jasa keuangan menyumbang Rp8,49 triliun.

Meskipun pendapatan menurun, beban pokok pendapatan ASII justru menunjukkan penurunan sebesar 4,7%, menjadi Rp63,17 triliun pada kuartal I 2026 dari posisi Rp66,30 triliun di kuartal I 2025. Namun, penurunan pendapatan ini berdampak pada laba kotor yang ikut terkoreksi.

Laba kotor perusahaan terpangkas 9,17% menjadi Rp15,49 triliun pada kuartal I 2026, berbanding terbalik dengan laba kotor di kuartal I 2025 yang mencapai Rp17,06 triliun. Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan pada margin operasional perusahaan.

Di sisi lain, terjadi peningkatan pada beberapa pos beban perusahaan, seperti beban penjualan yang naik 6,74% menjadi Rp3,16 triliun. Beban umum dan administrasi juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 23,42% menjadi Rp6,02 triliun.

Biaya keuangan juga dilaporkan naik menjadi Rp923 miliar pada kuartal I 2026, sementara bagian dari hasil bersih venture bersama ASII justru menunjukkan pertumbuhan positif, naik menjadi Rp1,90 triliun dari realisasi Rp1,77 triliun pada kuartal I 2025.