BISNISMARKET.COM - Proyeksi optimis menyelimuti PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) yang diperkirakan akan memasuki fase pemulihan signifikan pada tahun buku 2026. Optimisme ini muncul setelah perseroan BUMN tersebut berhasil melewati periode yang penuh tantangan akibat beban keuangan yang tinggi sepanjang tahun 2025. Kinerja keuangan 2025 menunjukkan pendapatan konsolidasi terkoreksi tipis 5,88% secara tahunan menjadi Rp29,89 triliun.
Penurunan pendapatan konsolidasi tersebut terutama disebabkan oleh kontraksi signifikan pada segmen pendapatan konstruksi yang menyusut hingga Rp10,07 triliun. Meskipun demikian, segmen bisnis inti jalan tol menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan positif sebesar 5,41% (YoY) mencapai Rp18,15 triliun, ditopang pendapatan usaha lainnya sebesar Rp1,65 triliun. Fundamental bisnis JSMR diyakini tetap resilien meski ada fluktuasi pendapatan konstruksi, sebagaimana ditegaskan Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono.
Rivan A. Purwantono menjelaskan bahwa stabilitas laba inti atau core profit yang berhasil dijaga di level Rp3,7 triliun merupakan hasil dari upaya efektif perseroan menekan beban keuangan konsolidasi hingga 10,5% secara tahunan. Penurunan beban ini merupakan dampak positif dari aksi korporasi equity financing yang dilakukan pada anak usahanya, PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT), pada kuartal IV/2024. "Core profit dan kinerja perseroan sepanjang 2025 terjaga stabil, didukung pertumbuhan pendapatan usaha dan EBITDA, serta penurunan beban keuangan secara konsolidasi sebagai dampak positif dari aksi korporasi equity financing di PT Jasamarga Transjawa Tol [JTT] pada kuartal IV/2024,” ujar Rivan.
Efek positif dari langkah strategis tersebut juga terlihat jelas pada perbaikan rasio solvabilitas, di mana Interest Coverage Ratio (ICR) JSMR meningkat menjadi 3,7 kali, sementara rasio utang terhadap ekuitas (DER) berhasil dipertahankan sehat pada level 1,2 kali. Sayangnya, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru mengalami penurunan cukup dalam, yakni sebesar 19,27% menjadi Rp3,65 triliun dari posisi sebelumnya Rp4,53 triliun.
Analis dari KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, memandang penurunan laba bersih pada tahun lalu disebabkan oleh siklus ekspansi masif, namun ia memproyeksikan tahun 2026 akan menjadi fase pemulihan yang didorong efisiensi operasional. "Tahun 2026 berpotensi menjadi fase pemulihan. Profitabilitas akan terdorong melalui optimalisasi ruas tol yang telah beroperasi penuh serta adanya perbaikan margin dan efisiensi pada beban pokok," ujar Wafi kepada Bisnis.
Katalis utama pertumbuhan pendapatan di tahun mendatang adalah penyesuaian tarif tol berkala pada sejumlah ruas utama yang diharapkan mendongkrak margin tanpa menambah beban struktur modal secara signifikan. Analis Panin Sekuritas, Aqil Triyadi, memperkirakan pertumbuhan pendapatan JSMR pada 2026 bisa mencapai sekitar 8% (YoY), lebih tinggi dari estimasi 6% di tahun 2025. Namun, Aqil mencatat adanya potensi tekanan laba bersih akibat keterlambatan operasi beberapa ruas tol baru seperti Prambanan—Purwomartani hingga Probolinggo—Besuki ke akhir 2026.
Meskipun menghadapi tantangan eksternal berupa persaingan moda transportasi publik, sentimen pasar terhadap saham JSMR tetap positif, dengan mayoritas 15 dari 18 analis Bloomberg Terminal merekomendasikan beli dengan target harga rata-rata Rp4.772,22 per saham. Saat ini, saham JSMR diperdagangkan di level Rp3.340 per saham di BEI hingga penutupan Kamis (5/3), mencerminkan pelemahan 2,05% sepanjang tahun berjalan.