BISNISMARKET.COM - Pergerakan pasar saham di kawasan Asia-Pasifik pada pembukaan perdagangan hari Jumat menunjukkan tren pelemahan. Hal ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor menyusul eskalasi baru dalam perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran, di tengah situasi gencatan senjata yang dinilai sangat rapuh.

Insiden baku tembak baru-baru ini dilaporkan terjadi di wilayah Selat Hormuz yang strategis. Masing-masing pihak, baik Amerika Serikat maupun Iran, saling melontarkan klaim mengenai siapa yang memulai aksi militer tersebut, menambah ketidakpastian di pasar global.

Meskipun terjadi peningkatan ketegangan militer, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pandangan bahwa gencatan senjata masih berlaku. Hal ini disampaikan oleh Trump dalam percakapan telepon dengan seorang reporter pada Kamis malam waktu setempat.

Presiden Trump kemudian memberikan pernyataan kontradiktif melalui platform Truth Social miliknya. Ia mengklaim bahwa Amerika Serikat telah "benar-benar menghancurkan" elemen Iran yang terlibat dalam baku tembak tersebut, termasuk kapal kecil dan drone.

Dalam unggahan tersebut, Trump memberikan deskripsi dramatis mengenai dampak serangan AS. Ia menyatakan bahwa drone-drone Iran telah "jatuh dengan sangat indah ke laut, seperti kupu-kupu yang jatuh ke kuburnya!" ujar Presiden Trump.

Lebih lanjut, Trump menegaskan kembali bahwa Iran akan menghadapi respons yang jauh lebih keras di masa depan apabila mereka menolak untuk menyetujui kesepakatan nuklir yang diajukan oleh AS.

"Sama seperti kita mengalahkan mereka lagi hari ini, kita akan mengalahkan mereka jauh lebih keras, dan jauh lebih kejam, di masa depan, jika mereka tidak menandatangani kesepakatan mereka, SECEPATNYA!" tulis Trump.

Kenaikan signifikan terpantau pada harga komoditas energi, di mana harga minyak berjangka melonjak tajam. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik 2,23% menjadi diperdagangkan pada level $96,92 per barel.

Sementara itu, minyak mentah Brent berjangka untuk bulan Juli menunjukkan kenaikan 2,40%, menembus angka $102,46 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Dilansir dari CNBC Indonesia, dampak sentimen negatif ini langsung terasa pada bursa saham regional.