BISNISMARKET.COM - Konglomerat terkemuka Indonesia, Sudono Salim atau Liem Sioe Liong, membangun reputasi bisnisnya yang panjang dan erat kaitannya dengan kekuasaan Orde Baru. Kedekatan personalnya dengan Presiden Soeharto, bahkan sejak masa sang presiden masih berpangkat kolonel, menjadi fondasi awal kesuksesannya.
Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Sudono Salim dikenal aktif dalam bisnis impor cengkeh dan penyediaan logistik untuk kebutuhan militer. Jaringan bisnis yang luas ini menarik perhatian Kolonel Soeharto, yang kemudian menjalin kemitraan strategis melalui perantara sepupu Soeharto, Sulardi.
Kemitraan ini menempatkan Salim sebagai pemasok logistik penting bagi pasukan Kolonel Soeharto selama periode Perang Kemerdekaan Indonesia. Hubungan mutualisme ini semakin menguat seiring dengan naiknya Soeharto ke tampuk kekuasaan pada pertengahan 1960-an.
"Setelah Soeharto meraih kekuasaan di Indonesia pada pertengahan 1960-an dan menjadi presiden, dia didukung oleh kelompok kroni pengusaha, yang terbesar dan terkuat adalah Liem Sioe Liong," tulis Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam buku mereka, Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016), dikutip Minggu (3/12/2023).
Relasi saling menguntungkan ini berlangsung selama tiga dekade, di mana Soeharto memberikan perlindungan dan kelancaran bagi bisnis Salim Group. Sebagai imbalannya, Salim Group menyalurkan dana signifikan kepada Soeharto, keluarganya, serta kroni-kroni lainnya.
Kejayaan ini membawa Salim menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia, sementara Soeharto mengukuhkan kekuasaannya, namun kemakmuran itu tiba-tiba terhenti dalam beberapa hari pada Mei 1998. Salim Group telah sukses menguasai tiga sektor utama: perbankan melalui Bank Central Asia (BCA), bangunan melalui Indocement, dan makanan melalui Bogasari serta Indofood.
Runtuhnya kerajaan bisnis ini dimulai saat Krisis Moneter 1998 melanda, dengan BCA mengalami dampak terburuk akibat penarikan dana nasabah secara massal. Sejarawan M.C Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2009) menyebutkan bahwa nasabah rela mengantre berjam-jam untuk menguras tabungan mereka, mengancam kebangkrutan BCA.
Puncak kehancuran bagi Salim terjadi pada Mei 1998, ketika sentimen anti-Soeharto meluas menjadi kerusuhan sosial dan rasial. Kedekatan dengan presiden yang jatuh menjadi malapetaka, menjadikan Salim sasaran amarah massa yang terprovokasi.
"Perusahaan para cukong dan keluarga Soeharto merupakan sasaran utama pembakaran dan penjarahan. Bank Central Asia milik Liem Sioe Liong merupakan objek serangan utama," tulis Ricklefs.