BISNISMARKET.COM - Emas telah lama menjadi simbol status dan komoditas penting dalam peradaban Jawa kuno, tren yang tidak hanya terbatas pada kalangan bangsawan tetapi juga meresap dalam kehidupan masyarakat umum. Fenomena ini bahkan sempat menarik perhatian dan rasa takjub dari para penjelajah yang datang dari kawasan China maupun Eropa ke Nusantara pada masa itu.

Pada era kejayaan seperti Kerajaan Majapahit (1293–1527 M), kepemilikan emas dalam jumlah besar tampak lazim di kalangan bangsawan. Kekayaan ini terlihat dari penggunaan emas untuk melapisi berbagai benda berharga, mulai dari kereta hingga peralatan sehari-hari seperti kipas.

Kebiasaan serupa juga terjadi di kerajaan lain yang sezaman, seperti Kerajaan Daha, di mana putri raja tercatat sering memanfaatkan kereta yang dilapisi emas sebagai moda transportasi. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan emas sebagai penanda kemewahan telah menjadi norma di kalangan elite penguasa.

Kecintaan terhadap akumulasi emas juga tercermin dalam catatan sejarah mengenai cita-cita para tokoh pada masa itu. "Ia ingin sama dengan empu Winada yang bercita-cita mengumpulkan banyak uang dan emas," tulis Prapanca, sebagaimana ditulis ulang oleh arkeolog Slamet Mulyana dalam bukunya Menuju Puncak Kemegahan (2012).

Selain nilai estetika dan simbolis, emas juga berfungsi sebagai instrumen penting dalam transaksi ekonomi skala besar di masyarakat Jawa kuno. Erwin Kusuma mencatat dalam Uang Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya (2021) bahwa emas sering digunakan dalam jual beli aset bernilai tinggi, seperti pembelian tanah.

Kehidupan gemilang masyarakat Jawa yang kaya akan emas ini menarik perhatian para pendatang. Penjelajah China yang sempat singgah terperanjat melihat para raja yang hidup sangat mewah. "Penjelajah China tersebut melihat emas bertaburan di sekitar raja. Saat makan saja mereka menggunakan peralatan berbahan emas," diceritakan dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa (2009).

Kunjungan penjelajah Eropa juga memberikan kesaksian serupa mengenai kelimpahan emas. Tome Pires, saat mengunjungi Jawa pada tahun 1513, terkejut melihat tampilan raja yang serba emas. "Saat mengunjungi Jawa tahun 1513 dia melihat raja Jawa yang sangat kaya. Penampilannya dari atas ke bawah full menggunakan emas. Bahkan, para pengawal dan anjing peliharaan juga memakai kalung dan gelang emas," tulis Tome Pires dalam Suma Oriental (1944).

Meskipun gemar menggunakan emas, sumber utama perolehannya bagi penduduk biasa bukanlah dari Jawa sendiri, melainkan melalui impor. Emas tersebut didatangkan dari Sumatra, yang dikenal sebagai 'Surga Emas', atau melalui jalur perdagangan dengan India.

Kebiasaan mengoleksi emas ini mengalami pergeseran pola seiring runtuhnya kerajaan kuno dan masuknya era kolonialisme, di mana perhiasan emas mulai bertransformasi menjadi harta karun yang terpendam di bawah tanah. Perubahan ini menjadikan emas tersembunyi sebagai target perburuan harta karun selama bertahun-tahun.