JAKARTA, BisnisMarket.com - Di tengah badai ketidakpastian ekonomi global yang menerpa berbagai negara, Indonesia justru menunjukkan taringnya dengan performa ekonomi yang tangguh. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dengan bangga menyatakan bahwa kondisi ekonomi RI saat ini jauh berbeda dengan era krisis 1998 yang kelam. Klaim ini bukan tanpa dasar, melainkan didukung oleh data-data makroekonomi yang impresif dan strategi jitu yang telah diterapkan.

Keperkasaan Ekonomi di Panggung Global

Bayangkan, di saat proyeksi pertumbuhan ekonomi global hanya berkisar 2,6 persen hingga 3,3 persen menurut lembaga sekelas IMF dan Bank Dunia, Indonesia diprediksi masih mampu melesat menembus angka 5 persen pada tahun 2026. Dilansir dari Kompas.com (14/4), Airlangga Hartarto bahkan memaparkan, "pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen, menjadi yang tertinggi kedua di antara negara G20 setelah India." Sebuah pencapaian luar biasa yang menempatkan Indonesia di peta ekonomi dunia sebagai kekuatan yang patut diperhitungkan. Bloomberg (14/4) pun melaporkan peluang Indonesia mengalami resesi sangatlah rendah, hanya sekitar 5 persen, jauh lebih kecil dibandingkan Brasil, China, Jepang, dan Amerika Serikat.

Kalkulasi Cerdas di Balik Angka Menggiurkan

Apa rahasia di balik ketangguhan ini? Airlangga menjelaskan bahwa fondasi utamanya adalah kuatnya permintaan domestik yang menyumbang sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Tak hanya itu, ketahanan pangan dan energi turut menjadi pilar penting yang menjaga stabilitas ekonomi nasional. Indonesia bahkan telah mencapai swasembada beras sejak 2025, dengan produksi mencapai 34,7 juta ton dan cadangan beras Bulog yang melimpah. Di sektor energi, program biodiesel B50 dan pengembangan energi terbarukan terus digalakkan.

APBN sebagai Perisai Pelindung

Dalam menghadapi guncangan ekonomi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memainkan peran vital sebagai peredam. Pemerintah tak hanya menyalurkan berbagai bantuan sosial untuk melindungi masyarakat, tetapi juga memastikan penerimaan negara tetap tumbuh. Hingga Maret 2026, penerimaan pajak tercatat melonjak 14,3 persen secara tahunan, dengan defisit anggaran yang tetap terkendali di bawah 3 persen, sebuah capaian yang patut diacungi jempol dibandingkan negara-negara besar lainnya.

Kekuatan Fundamental yang Tak Tergoyahkan

Lebih lanjut, cadangan devisa Indonesia berada pada level aman, "sekitar 148,2 miliar dollar AS, itu setara dengan enam bulan impor," ujar Airlangga. Indikator sosial ekonomi pun menunjukkan tren positif: tingkat kemiskinan menurun menjadi 8,25 persen, pengangguran menyentuh 4,7 persen, dan ketimpangan (gini ratio) turun ke 0,363.