Tren positif terus menyelimuti instrumen investasi logam mulia hingga penghujung Februari 2026. PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) mencatatkan lonjakan signifikan pada harga pembelian kembali atau buyback emas batangan mereka. Kenaikan ini memberikan angin segar bagi para investor yang ingin mencairkan aset mereka di tengah fluktuasi pasar global yang dinamis.
Mengacu pada data Logam Mulia per Sabtu (28/2/2026), harga buyback emas Antam merangkak naik sebesar Rp40.000 menjadi Rp2.864.000 per gram. Angka tersebut merefleksikan pertumbuhan sebesar 21,35 persen terhitung sejak awal tahun berjalan. Meski demikian, posisi harga saat ini masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa senilai Rp2.989.000 yang tercipta pada Januari lalu.
Transaksi buyback merupakan mekanisme di mana konsumen menjual kembali emas mereka, baik berupa perhiasan maupun batangan, kepada pihak Antam. Perlu diingat bahwa berdasarkan regulasi PMK No 34/PMK.10/2017, transaksi dengan nominal di atas Rp10 juta akan dikenakan potongan pajak penghasilan. Pemegang NPWP dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen, sementara bagi non-NPWP besaran pajaknya mencapai 3 persen yang dipotong langsung.
Dinamika harga emas domestik ini tidak lepas dari pengaruh pergerakan harga komoditas serupa di pasar internasional yang terus bergejolak. Saat ini, pasar sedang mencermati perkembangan perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi oleh pemerintah Oman. Meskipun ada laporan mengenai kemajuan signifikan, ketidakpastian masih menyelimuti meja perundingan sehingga memicu volatilitas harga di bursa global dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot sempat terkoreksi tipis 0,24 persen ke level US$5.175,04 per troy ounce pada Jumat (27/2/2026). Di sisi lain, harga emas berjangka Comex AS untuk kontrak April 2026 justru menunjukkan penguatan 0,23 persen ke posisi US$5.205,80. Secara kumulatif, harga emas dunia telah melonjak sekitar 20 persen sepanjang tahun ini dan konsisten bertahan di atas level psikologis US$5.000.
Para pelaku pasar juga tengah memantau dengan saksama sinyal kebijakan moneter dari Federal Reserve terkait arah suku bunga acuan ke depan. Presiden Fed Chicago, Austan Goolsbee, mengisyaratkan adanya peluang pemangkasan suku bunga jika laju inflasi terus menunjukkan tren penurunan. Sementara itu, Gubernur The Fed Stephen Miran menyarankan pemangkasan hingga satu poin persentase penuh sepanjang tahun 2026 meskipun kondisi pasar tenaga kerja membaik.
Kombinasi antara ketegangan geopolitik dan prospek kebijakan ekonomi Amerika Serikat diprediksi akan terus menopang reli harga emas dalam jangka panjang. Investor cenderung menjadikan logam mulia sebagai aset aman atau safe haven di tengah kekhawatiran terhadap independensi bank sentral. Kondisi ini membuat prospek investasi emas tetap dipandang menarik bagi masyarakat yang mencari perlindungan nilai aset yang stabil.
Sumber: Market.bisnis