JAKARTA, BisnisMarket.com - Tingginya biaya logistik kembali menjadi isu krusial yang disoroti pemerintah dan pelaku usaha nasional sepanjang tahun ini. Kondisi ini dinilai tidak hanya menggerus margin operasional dunia usaha, tetapi juga menekan daya saing ekspor Indonesia serta menghambat laju pertumbuhan ekonomi.
Permasalahan biaya logistik nasional harus ditelaah secara komprehensif, tidak hanya dibebankan pada sektor transportasi semata. Hal ini ditegaskan oleh Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations sekaligus Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi.
“Biaya logistik yang tinggi sesungguhnya merupakan dampak dari persoalan struktural, terutama belum meratanya pembangunan ekonomi nasional,” ujar Yukki. Permasalahan struktural ini mencakup ketimpangan infrastruktur, konektivitas antarwilayah, serta tata kelola regulasi yang belum efisien.
Yukki menekankan bahwa kunci penyelesaiannya adalah membangun struktur ekonomi yang lebih seimbang melalui industrialisasi, hilirisasi, dan pemerataan pusat pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, pembangunan ini harus lebih fokus daripada sekadar membangun infrastruktur fisik semata.
Aktivitas ekonomi saat ini masih sangat terpusat di Pulau Jawa, padahal banyak sektor unggulan berada di luar Jawa, seperti pertambangan, perikanan, dan perkebunan. Keterpusatan ini menciptakan ketidakseimbangan arus barang (trade imbalance) yang memicu tingginya biaya logistik nasional. Fenomena ini terlihat dari banyaknya armada yang kembali tanpa muatan atau empty backhaul.
Lebih lanjut, Yukki menyoroti struktur perdagangan yang didominasi impor CIF (Cost, Insurance & Freight) dan ekspor FOB (Free on Board). Struktur ini membuat nilai tambah sektor logistik dan asuransi banyak dinikmati pihak luar negeri. Akibatnya, Indonesia cenderung hanya menjadi pemasok komoditas tanpa menguasai rantai nilai perdagangan internasionalnya.
Oleh karena itu, penguatan ekosistem logistik nasional harus dilakukan secara bertahap dengan mengakselerasi re-industrialisasi dan hilirisasi nasional. Percepatan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk menekan biaya logistik secara struktural.
Indonesia dapat mencapai sistem logistik yang efisien apabila hilirisasi dipercepat pada sektor unggulan seperti mineral, energi, pertanian, dan perkebunan. Ketika produksi, industri, dan konsumsi tumbuh merata di seluruh wilayah, efisiensi logistik akan terbentuk alami melalui keseimbangan arus barang.
“Re-industrialisasi dan hilirisasi akan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa melalui pembangunan kawasan industri, manufaktur, dan jaringan distribusi regional,” tutup Yukki. Ketika daerah penghasil komoditas mulai memproduksi barang bernilai tambah, tercipta keseimbangan arus perdagangan dua arah yang meningkatkan utilisasi logistik.