JAKARTA, BisnisMarket.com — Pergerakan IHSG dan Rupiah beberapa pekan terakhir bukan sekadar angka di layar perdagangan, melainkan sinyal penting bagi kekuatan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global.
Analis ekonomi politik pasar saham, Kusfiardi, menekankan bahwa koreksi IHSG dari 7.700-an ke bawah 7.000 dan Rupiah yang bergerak di kisaran Rp17.300–17.400 per dolar AS mencerminkan kerentanan struktural yang tak bisa diabaikan.
“Pasar sedang memberi pesan jelas: fondasi ekonomi kita masih rapuh. IHSG sebelumnya naik banyak karena arus modal jangka pendek dan sentimen global, bukan karena kekuatan ekonomi domestik yang solid,” ujarnya saat ditemui, Senin (11/5).
Data perdagangan menunjukkan IHSG sempat menembus 7.675 pada pertengahan April sebelum turun tajam dan ditutup di level 6.956 pada akhir bulan. Pada perdagangan 8 Mei, IHSG kembali melemah signifikan 2,86 persen dalam satu hari. Rupiah pun bergerak sejalan, melemah dari Rp16.900 per dolar AS di awal April menjadi di atas Rp17.300 awal Mei 2026.
Kusfiardi menekankan, pelemahan Rupiah berimbas luas karena Indonesia masih bergantung pada impor energi dan bahan baku industri. “Rupiah di atas Rp17.000 bukan hanya isu moneter. Ini masalah ekonomi politik nyata, karena masyarakat merasakan dampaknya lewat harga pangan, BBM, dan biaya hidup yang naik,” katanya.