BISNISMARKET.COM - Pada perdagangan hari Senin, 18 Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan kinerja yang sangat negatif dan terperosok jauh ke dalam zona merah. Pergerakan ini menandai awal pekan yang penuh tekanan bagi pasar modal domestik.

Data yang dihimpun dari Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 10.09 WIB mengonfirmasi pelemahan drastis tersebut. IHSG tercatat ambles sedalam 256,37 poin, merefleksikan koreksi sebesar 3,81 persen.

Akibatnya, posisi IHSG pada waktu tersebut berada di level 6.466,95, jauh di bawah penutupan sebelumnya. Penurunan ini merupakan salah satu yang paling signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Tekanan jual yang masif tersebut sudah terasa sejak dimulainya sesi preopening pagi itu. Indeks saham domestik sudah sempat merosot lebih awal, menunjukkan adanya sentimen negatif yang kuat sebelum pasar dibuka resmi.

Pada sesi preopening, indeks saham tercatat sempat tergerus 94,344 poin atau setara dengan koreksi 1,40 persen, bergerak menuju level 6.628,98. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar sudah mengantisipasi pelemahan yang terjadi.

Setelah dibuka pada level 6.628,98, IHSG sempat menunjukkan upaya bertahan dengan mencapai titik tertinggi di 6.631,28. Namun, upaya tersebut gagal mempertahankan momentum positif dan indeks segera meluncur tajam.

Titik terendah intraday yang sempat dicapai IHSG tercatat di level 6.428,93, menunjukkan seberapa dalamnya tekanan jual yang menghantam harga-harga saham sepanjang pagi itu.

Pelemahan signifikan ini disebabkan oleh kombinasi faktor, termasuk sentimen negatif yang berkembang di pasar global serta adanya kebijakan baru yang dikeluarkan oleh FTSE, yang menjadi pemicu koreksi pasar saham.

Dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM, kondisi ini menunjukkan sensitivitas pasar saham domestik terhadap dinamika dan kebijakan yang berlaku di pasar internasional. Sentimen global dan perubahan indeks eksternal sering kali menjadi penentu arah pergerakan IHSG.