BISNISMARKET.COM - Perdagangan pasar keuangan Indonesia pada Selasa, 5 Mei 2026, menyajikan kontras yang mencolok antara kinerja pasar saham yang positif dan pelemahan signifikan pada mata uang domestik. Bursa saham berhasil membukukan kenaikan signifikan, sementara nilai tukar Rupiah tertekan hingga menyentuh titik terlemah sepanjang sejarah pencatatannya.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan kinerja impresif dengan berhasil menguat sebesar 85,16 poin, atau setara 1,22 persen, pada penutupan hari itu. Kenaikan tersebut membawa IHSG berakhir di level 7.057,11, menandakan optimisme investor terhadap prospek ekonomi dalam negeri.
Secara teknikal, pergerakan IHSG didukung oleh mayoritas saham yang menguat, dengan tercatat 342 saham berhasil mencatatkan kenaikan harga. Di sisi lain, terdapat 314 saham yang mengalami koreksi penurunan selama sesi perdagangan berlangsung.
Aktivitas transaksi di bursa saham juga cukup ramai, dengan total nilai transaksi mencapai Rp 16,9 triliun. Jumlah saham yang berpindah tangan pada hari tersebut mencapai angka 41,39 miliar lembar saham, menunjukkan likuiditas pasar yang sehat.
Pendorong utama di balik kinerja positif IHSG ini adalah rilis data makroekonomi dari Badan Pusat Statistik (BPS). BPS mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 berhasil mencapai angka 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis tersebut ternyata melampaui ekspektasi atau proyeksi yang sebelumnya telah disusun oleh para analis pasar. Selain itu, capaian ini juga menunjukkan akselerasi dibandingkan dengan kinerja pertumbuhan pada kuartal sebelumnya.
Meskipun pasar saham menunjukkan kekuatan, mata uang Rupiah menghadapi tantangan berat, tertekan hingga mencapai level terlemah secara historis. Kontras antara penguatan bursa dan pelemahan mata uang ini menjadi fokus utama dalam dinamika pasar domestik hari itu.
Menyongsong hari perdagangan berikutnya, para pelaku pasar memproyeksikan adanya potensi keseragaman dalam pergerakan positif di seluruh instrumen pasar keuangan domestik. Optimisme terhadap fundamental ekonomi menjadi landasan proyeksi tersebut.
Dilansir dari JAKARTAHYPE.COM, dinamika beragam ini terjadi pada perdagangan hari Selasa kemarin, menggarisbawahi bagaimana pasar merespons berbagai faktor fundamental dan eksternal secara simultan.