JAKARTA, BisnisMarket.com
- Bayangkan saja, dalam waktu kurang dari 10 hari, kebijakan moneter berubah
dua kali dan mengubah peta ekonomi secara drastis. Bank Indonesia memutar tuas
suku bunga hingga menyentuh angka 5,75 persen. Langkah tegas ini memicu beragam
reaksi, terutama dari pelaku usaha ritel yang menjadi tulang punggung
perputaran uang masyarakat. Apakah ini awal dari tantangan berat, atau justru
jalan keluar untuk memulihkan kekuatan ekonomi negeri?
Dilansir dari Bloomberg Technoz (21/6), Himpunan
Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) telah merespons
tren kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate yang kini berada di level 5,75
persen per Juni 2026. Kebijakan ini diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur pada
17–18 Juni 2026, menyusul kenaikan serupa sebesar 25 basis poin pada 9 Juni
sebelumnya, yang saat itu menempatkan suku bunga di angka 5,5 persen. Langkah
ini diambil sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan tekanan
inflasi, serta memperkuat ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global
yang masih tinggi. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, “Kenaikan ini sebagai
langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di
tengah tetap tingginya ketidakpastian global.”
Biaya Investasi Meningkat, Tantangan Nyata
bagi Pelaku Usaha
Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, mengakui
bahwa kenaikan suku bunga membawa dampak langsung yang terasa bagi dunia usaha.
“Memang ada beberapa investasi yang dibiayai oleh perbankan atau investasi yang
kami parkirkan, ada kenaikan suku bunga,” ungkapnya. Logikanya sederhana: saat
suku bunga naik, biaya bunga kredit menjadi lebih mahal. Bagi peritel yang
berencana memperluas gerai, memperbarui stok barang, atau mengembangkan sistem
usaha, biaya modal yang lebih tinggi menjadi beban tambahan yang tak bisa
diabaikan. Hal ini tentu memicu kekhawatiran apakah rencana investasi harus
ditunda atau bahkan dikurangi, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan sektor
ritel.
Sisi Terang: Bunga Simpanan Naik, Daya
Beli Bisa Menguat
Namun, di balik kekhawatiran itu, Budihardjo melihat
sisi lain yang justru menjadi harapan besar. Ia menekankan bahwa kenaikan suku
bunga pinjaman biasanya berjalan beriringan dengan kenaikan suku bunga simpanan
masyarakat. Ini artinya, uang yang disimpan di bank akan memberikan keuntungan
lebih besar bagi nasabah. “Namun, dampak positifnya saya rasa lebih besar untuk
bisa segera membuat daya beli meningkat. Kalangan menengah ke atas bisa
menggunakan tabungannya untuk berbelanja kembali di Indonesia untuk menggunakan
sektor ritel offline,” ujarnya dengan optimis.
Artinya, meski biaya investasi naik, kemampuan
masyarakat untuk membelanjakan uangnya justru bisa tumbuh lebih kuat. Kelompok
masyarakat dengan pendapatan menengah ke atas yang mendapatkan hasil lebih baik
dari tabungannya, diprediksi akan lebih leluasa berbelanja, yang pada akhirnya
akan menggerakkan roda usaha para peritel. Ini menjadi keseimbangan menarik:
satu sisi biaya naik, sisi lain potensi pendapatan bisa bertambah.
Strategi BI: Menahan Rupiah agar Tak Terus
Melemah
Kebijakan agresif menaikkan suku bunga ini juga
dipandang sebagai langkah jangka pendek yang krusial. Budi berpendapat,
keputusan Bank Indonesia ini adalah salah satu cara untuk meredam pelemahan
nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang belakangan ini terus
tertekan. Ketika nilai tukar stabil, harga barang kebutuhan pokok dan barang
dagangan pun cenderung lebih terjaga, sehingga tekanan inflasi bisa
dikendalikan. Jika inflasi terjaga, maka daya beli masyarakat secara
keseluruhan tetap aman, dan roda ekonomi tetap berputar meski ada penyesuaian
biaya di sisi pelaku usaha.