Pasar modal Indonesia mengalami guncangan hebat pada awal pekan di bulan Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa ditutup di zona merah dengan koreksi yang cukup dalam mencapai 2,66 persen. Pergerakan indeks berakhir pada posisi 8.016,8 setelah mengalami tekanan jual yang masif sepanjang hari perdagangan Senin (2/3/2026).

Tekanan utama yang merontokkan indeks berasal dari pelemahan signifikan pada deretan saham berkapitalisasi pasar besar atau big caps. Emiten raksasa seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), hingga PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi pemicu utama pelemahan. Aksi lepas saham oleh investor membuat indeks sulit untuk bangkit kembali ke zona hijau hingga akhir sesi.

Sejak bel pembukaan pagi tadi, IHSG terpantau langsung terjun bebas tanpa perlawanan berarti dari sisi pembeli. Rentang perdagangan harian tercatat cukup lebar, yakni mulai dari level tertinggi di 8.133,6 hingga menyentuh titik terendah. Kondisi paling kritis terjadi tepat saat penutupan pasar di mana indeks menyentuh level terlemahnya di posisi 8.016,8.

Faktor eksternal berupa ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama kepanikan investor di pasar global. Serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) telah memicu pecahnya perang terbuka. Situasi mencekam ini mendorong para pelaku pasar untuk segera menghindari aset-aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman.

Menanggapi kondisi pasar saat ini, tim riset Phintraco Sekuritas memberikan pandangan teknikal terhadap pergerakan indeks yang sedang fluktuatif. “Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level psikologis 8.000 dan masih di atas level MA200,” papar Phintraco Sekuritas dalam riset resminya. Meskipun demikian, terdapat beberapa indikator yang menunjukkan kewaspadaan tinggi bagi para pelaku pasar.

Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya penyempitan pada histogram positif MACD yang terus berlanjut dan berpotensi membentuk pola death cross. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya risiko tren penurunan lanjutan jika sentimen negatif global terus bertahan. Para investor kini memantau dengan cermat apakah indeks mampu mempertahankan posisinya di atas angka psikologis tersebut.

Apabila IHSG gagal bertahan dan menembus ke bawah level 8.000, maka tekanan jual diprediksi akan semakin meningkat tajam. Indeks diprediksi berpotensi untuk kembali menguji level support berikutnya yang berada di rentang 7.860 hingga 7.900. Ketidakpastian global akibat konflik bersenjata masih akan menjadi bayang-bayang bagi pergerakan bursa domestik dalam beberapa waktu ke depan.

Sumber: Bloombergtechnoz

https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/101397/penyebab-ihsg-ditutup-melemah-2-66