Pasar modal Indonesia sedang menghadapi tekanan hebat menyusul eskalasi konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terjun bebas hingga melampaui angka dua persen pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran luas di kalangan pelaku pasar modal tanah air yang memantau pergerakan aset mereka.

Pjs. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, segera memberikan respons resmi terkait fluktuasi tajam yang terjadi di lantai bursa. Pihak otoritas bursa terus memantau dengan saksama pergerakan indeks yang sempat menyentuh zona merah cukup dalam tersebut. Jeffrey menekankan pentingnya menjaga ketenangan dan kepala dingin di tengah situasi pasar yang sedang bergejolak hebat.

Ketidakpastian global menjadi faktor utama yang menekan performa saham-saham unggulan di dalam negeri pada Senin (2/3/2026). Eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat internasional secara langsung berdampak pada sentimen negatif investor di pasar berkembang termasuk Indonesia. Hal ini memicu aksi jual yang cukup masif sejak bel pembukaan perdagangan sesi pertama dibunyikan. “Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” kata Jeffrey dalam keterangannya, Senin (2/3/2026). Pernyataan tersebut dikeluarkan untuk meredam kepanikan yang mungkin timbul di kalangan pemodal ritel maupun institusi. Jeffrey juga menyarankan agar para pelaku pasar tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan investasi yang emosional.

Selain itu, Jeffrey mengingatkan agar setiap individu kembali meninjau rencana keuangan jangka panjang mereka dengan saksama. “Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing-masing investor,” kata Jeffrey menambahkan arahannya bagi publik. Langkah ini dianggap sangat krusial agar portofolio investasi tetap terjaga meskipun pasar modal sedang berada dalam fase volatilitas yang tinggi.

Berdasarkan data perdagangan Senin (2/3/2026) hingga pukul 10.00 WIB, IHSG tercatat masih tertahan di zona merah dengan koreksi sebesar 1,39 persen. Indeks berada pada level 8.120 setelah sebelumnya sempat terpuruk ke posisi terendah intraday di level 8.039. Meskipun sempat dibuka pada level 8.092, tekanan jual masih terasa cukup kuat menahan laju pemulihan indeks ke zona hijau.

Pihak Bursa Efek Indonesia berharap kondisi pasar dapat segera stabil seiring dengan penyesuaian strategi yang dilakukan oleh para investor. Fundamental perusahaan tercatat diharapkan tetap menjadi acuan utama di tengah badai sentimen negatif global yang sedang berlangsung saat ini. Otoritas bursa berkomitmen untuk terus melakukan pengawasan ketat demi memastikan perdagangan berjalan dengan wajar serta transparan.

Sumber: Bloombergtechnoz

https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/101305/kata-bei-soal-ihsg-balik-merah-imbas-sentimen-timur-tengah